Dampak Negative Terorisme

Dampak Negative Terorismeبسم الله الرحمن الرحيم

Pembaca yang budiman, pelaku tindakan terorisme mengatasnamakan Islam. Mereka meyakini apa yang mereka perbuat adalah suatu kebaikan dan menegakkan jihad di jalan Allah .

Salah satu alasan mereka, tentara Yahudi, Amerika, dst, telah membantai sekian ribu kaum muslimin. Maka mereka merasa perlu membalas tindakan biadab itu… Tapi apakah cara yang mereka tempuh itu benar? Lempar batu sembunyi tangan, setelah “ngebom” lari dan  bersembunyi… Apakah hal seperti ini benar? Akibatnya, banyak kaum muslimin yang tidak berdosa “kena getah” dari perbuatan keji mereka itu.

Pada edisi kali ini, kami akan menyebutkan beberapa perkara yang menjadi dampak negatif tindakan terorisme ini, dengan harapan agar tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi semua pihak yang gelisah dan bingung atas tindakan ini.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari terorisme antara lain adalah,

1.         Tindakan Terorisme merupakan bentuk penentangan terhadap Allah  dan Rasulullah . Segala bentuk perbuatan kerusakan, peledakan, dan aksi-aksi terorisme adalah terlarang dalam agama ini. Demikian pula menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan kaum muslimin, kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’man adalah haram menurut dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu kita jelaskan, bahwa ada pembagian orang-orang kafir menurut syari’at Islam yang mulia ini.

Pertama: Kafir Dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih mentaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.

Kedua: Kafir Mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati.

Ketiga: Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan (termasuk di dalam kategori ini adalah turis asing yang datang ke negara muslim, pedagang, utusan & orang yang mau masuk Islam)

Keempat: Kafir harby, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Tentang larangan membunuh orang yang dilarang diperangi, itu berdasarkan firman Allah , “Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah : 4)

Maka siapa yang melanggar hal tersebut dengan membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh, maka bersiaplah untuk menuai ancaman Allah  sebagaimana dalam firman-Nya, “(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal : 13)

Dan Allah  berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadilah : 20)

2.         Keluar dari jalan kaum muslimin dan tidak mengikuti jalan mereka. Aksi-aksi terorisme serta menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan muslim, kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man adalah haram menurut kesepakatan ulama dari semenjak jaman shahabat hingga ulama sekarang. Maka melanggar hal tersebut berarti telah keluar dari jalan kaum muslimin. Allah  menegaskan, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115)

3.         Pembangkangan dan penghinaan terhadap para penguasa. Terjadinya aksi-aksi terorisme di negeri Islam terhitung sebagai penentangan dan penghinaan terhadap penguasa. Dan cukuplah ia dikatakan berdosa karena telah menyelisihi firman Allah , “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)

Dan Nabi  juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas , Rasulullah  bersabda, “Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar. Karena siapa yang keluar dari kekuasaan sejengkal kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7053)

Dan dalam hadits Abu Bakrah , Rasulullah  menegaskan,“Siapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Ahmad 5/42)

4.         Membuat bid’ah dalam agama. Seluruh aksi terorisme yang terjadi di masa ini, walaupun dinisbatkan kepada Islam, namun pada hakekatnya ia adalah perkara baru dalam agama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi  dan oleh para shahabatnya.

Dari ‘Aisyah bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam agama kami, padahal ia tidak ada asalnya (dalam agama) maka sesuatu itu tertolak.”

Dan dalam riwayat lain Nabi  menyatakan, “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami (yang tidak ada tuntunannya), maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

5.         Melanggar perjanjian kaum muslimin. Kebanyakan dari aksi terorisme yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin adalah bentuk pembatalan perjanjian yang telah dijalin oleh penguasa atau bagian dari Negara, baik itu berupa jaminan keamanan, perdamaian dan sebagainya. Rasulullah  mengancam perbuatan melanggar janji semacam itu, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib  bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Dzimmah (perjanjian/tanggung jawab) kaum muslimin adalah satu. Barang siapa yang membatalkan perjanjian seorang muslim, maka laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia atasnya (orang yang membatalkan perjanjian itu). Tidak diterima darinya sedikitpun.” (HR. Bukhari no. 3179)

6.         Terorisme merupakan perbuatan dzalim dan melampaui batas. Seorang muslim yang baik dan memahami agamanya dengan benar, tidak akan ragu bahwa aksi-aksi terorisme dan yang semisalnya adalah perbuatan kedzaliman dan melampaui batas. Berkata Masruq bin Al-Ajda’ Al-Wadi’ie –rahimahullah-, “Saya tidak pernah mendzalimi seorang muslim pun dan tidak pula kafir mu’ahad.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 6/83)

7.         Menghambat jalan tersebarnya agama Allah . Betapa banyak kegiatan-kegiatan dakwah Islam yang terhenti karena tindakan terorisme yang nampak belakangan ini. Penyebaran Islam, ajakan masuk islam, berusaha mendidik kaum muslimin, pengadaan studi ilmiah islamiah, penyebaran buku-buku Islam, bantuan dan santunan untuk kaum muslimin, pembangunan masjid dan sekolah-sekolah islami, dan aktifitas dakwah lainnya, terhambat karena adanya perbuatan tersebut. Maka bagi mereka yang menghambat jalan Allah  ini, sungguh akan merugi di kemudian hari, karena Allah  berfirman, “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah : 9)

8.         Membuat takut kaum muslimin. Aksi-aksi terorisme telah meruntuhkan suatu dasar pokok dalam agama kita, yaitu penegakan keamanan yang merupakan ciri syari’at Islam. Namun para teroris yang menganggap dirinya berada di atas tuntunan Islam, tidak pernah sadar betapa banyak musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan mereka. Dan mereka sama sekali tidak ingin mengerti betapa kaum muslimin dihinakan diberbagai negara, baik oleh pemerintahnya ataupun sesama rakyat. Betapa banyak pemerintah di negara-negara muslim ditekan oleh musuh-musuh Islam dengan alasan adanya kelompok teroris di negeri mereka. Dan betapa banyak kaum muslimin disiksa dan dipenjara, dst, karena ulah mereka.

10.       Berkuasanya orang-orang kafir terhadap kaum muslimin. Harus diketahui bahwa apa yang menimpa kaum muslimin pada hari-hari ini dengan berkuasanya para musuh Islam terhadap mereka disejumlah negeri kaum muslimin adalah tidak lepas dari pengaruh negatif perbuatan terorisme yang sedang melanda manusia yang sama sekali tidak memperhitungkan aturan-aturan syari’at, menjaga keamanan dan perjanjian, dst.

Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah  dari hadits Abdullah bin Umar , “Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima perkara yang kalian akan diuji dengannya… (beliau sebut diantaranya) …dan tidaklah mereka membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas kaum muslimin, kemudian mengambil bagian apa yang ada di tangan mereka. Dan kapan para penguasa tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah kecuali Allah akan menjadikan kehancuran mereka di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)

Hadits ini menunjukkan bahwa membatalkan perjanjian adalah sebab berkuasanya musuh terhadap kaum muslimin. Jika membatalkan sehari saja sedemikian rupa akibatnya, maka tentunya sikap aksi terorisme dengan bobot pelanggaran yang lebih besar dari membatalkan janji, tentu akan lebih berbahaya dan lebih menyebabkan orang-orang kafir berkuasa terhadap kaum muslimin.

11.       Pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah. Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin -rahimahullah-, “Dan jiwa yang diharamkan oleh Allah  adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, (kafir) dzimmi, mu’ahad, dan musta’man”.

Dan tentunya sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang bahayanya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Diantarnya adalah firman Allah , “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(QS. Al-Maidah : 32)

Dan sengaja membunuh jiwa seseorang yang dilarang untuk dibunuh tentu dosanya lebih besar, sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa’ : 93)

Dan Nabi  juga menegaskan larangan membunuh jiwa yang dilarang dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr , “Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah  daripada (jiwa) seorang muslim.” (HR. At-Tirmidzi no. 1399)

Dan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah ini semakin besar dosanya, ditinjau dari sisi lain, dimana para pelakunya telah melakukan pembunuhan kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai andil dalam peperangan. Sedangkan Allah  telah menegaskan, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah : 190)

Dan juga pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak adalah dilarang. Ibnu ‘Umar  menerangkan, “Seorang wanita ditemukan terbunuh pada sebagian peperangan Rasulullah , maka Rasulullah  (kemudian) menetapkan larangan membunuh wanita dan anak kecil.” (Riwayat Bukhari no. 3014, Muslim no. 1744)

12.       Menyakiti kaum muslimin yang tidak berdosa. Tidaklah terhingga berbagai kepedihan dan duka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan terorisme yang dilakukan oleh segelintir pihak ini (khususnya di negeri-negeri yang kaum muslimin menjadi minoritas). Sekali mereka meledakkan bom atau membuat teror, beberapa tentara/aparat negara yang dia jadikan “target sasaran” terluka atau bahkan tewas. Akan tetapi dalam waktu yang singkat, serangan balasan dilakukan oleh tentara itu. Akibatnya bisa diduga, ratusan bahkan ribuan kaum muslimin terluka atau bahkan tewas karena serangan balasan yang lebih besar itu, sedangkan “teroris-teroris” itu melarikan diri/bersembunyi. Lalu apakah ini dinamakan tindakan yang rasional? Mereka tidak menambah kemuliaan kaum muslimin, tetapi justru menjerumuskan kaum muslimin dalam kesengsaraan. Ini adalah bentuk “menyakiti” kaum muslimin dengan tidak langsung. Cukuplah bagi pembuat kerusakan tersebut ancaman dari Allah , “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Dan dari hadits Mu’adz bin Anas , Rasulullah  bersabda,“Siapa yang mempersempit rumah orang, atau memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” (HR. Ahmad 3/440)

14.       Menjadikan orang-orang yang komitmen terhadap agamanya sebagai bahan cercaan dan celaan. Kerena perbuatan sebagian orang, akhirnya sejumlah tuntunan syari’at dihinakan. Dan juga, orang-orang yang menerapkan syari’at Islam atas diri dan keluarganya juga dihinakan banyak pihak. Orang yang berjenggot, laki-laki yang memakai celana di atas mata kaki, wanita yang berjilbab dengan jilbab yang syar’i, berpakaian islami, dst, dicap sebagai “teroris” atau orang “ekstrim”. Padahal mau tidak mau, kita harus menyadari bahwa ungkapan-ungkapan demikian itu adalah diusung oleh musuh-musuh Islam guna menjatuhkan kewibawaan Islam dan kaum muslimin. Kita sendiri bisa melihat, tidak semua orang yang berjenggot, berjilbab syar’i, dst, adalah satu pemikiran dengan teroris ini. Bahkan jika melihat kedaan teroris-teroris itu, terkadang syari’at Islam mereka anggap remeh. Misalnya, ketika mereka butuh untuk melakukan “penyamaran” supaya lolos dari kejaran polisi, syari’at berpakaian mereka abaikan. Mereka berpakaian layaknya preman, jenggot dicukur, memakai pakain ketat, dst, yang sejatinya ini merupakan pelanggaran syari’at. Jadi, singkatnya kita katakan “Mereka berteriak-teriak supaya syari’at Islam ditegakkan, tetapi mereka melanggar syari’at Islam itu sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan mereka”.

Maka dari mana cita-cita mereka itu akan tercapai? Dalam Al-Qur’an, Alllah  mengancam orang-orang yang mengundang fitnah bagi kaum muslimin apapun bentuknya, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj : 10)

Wallahua’lam bish-shawab.

Maraji’ : Kitab “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad ….Bukan Kenistaan” karya Al-ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

sumber : almadinah.or.id

Apa Hukum Isbal dan Mencukur Jenggot?

isbal 2Oleh : Ustadz Muhammad Na’im Lc

Pertanyaan :

Apa hukumnya memakai celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot ?

Jawab :

Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya shallallaahu’alaihi wasallam. Dan diantara bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah memakai kain di atas mata kaki dan memelihara jenggot.. Adapun hukum asal memakai kain dan perhiasan adalah mubah, dan tidak diharamkan kecuali jika ada dalil yang menunjukkannya. Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al A’raaf : 32 )

Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan ketentuan dalam memakai kain agar tidak menjulur ke bawah mata kakinya karena hal itu dilarang dan termasuk perbuatan dosa. Adapun kain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ujung kainnya sampai ke tengah betisnya, ke atas sedikit atau di bawah tengah betis sampai kedua mata kakinya.  Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :

Dari Utsman bin ‘Affaan radhiyallaahu ‘anhu berkata : ” Kain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sampai ke tengah betisnya.” (HR. Muslim ) Dan sabda beliau : “Kainnya seorang muslim adalah sampai ke tengah betisnya.” (HR Ahmad dan Abu Uwanah )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min adalah sampai kedua betisnya, tidak mengapa antara betis dengan dua mata kaki..” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kain itu sampai setengah betis.” Ketika dilihatnya hal itu memberatkan kaum muslimin, beliau bersabda : “Sampai kedua mata kakinya, tidak ada kebaikan apa yang ada di bawah kedua mata kaki.”

Dan hadits-hadits tentang larangan isbal (memakai kain di bawah mata kaki) sampai derajat mutawatir secara ma’nawi dalam kitab shahih, sunan juga masanid dan yang lainnya. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbaad hafidhahullah (Ulama dan Muhadits Madinah sekarang ini) ketika ditanya tentang menjulurkan kain melebihi mata kaki dengan tidak sombong, maka beliau menjawab : Isbal itu buruk meski tidak sombong dan jika dibarengi kesombongan maka itu lebih buruk.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Amr bin Maimun radhiyallahu’anhu bahwa ketika Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu ditusuk perutnya ketika sholat shubuh oleh Abu Lu’luah Al Majusi budaknya sahabat Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, kemudian diangkat ke rumahnya kemudian diberi minum air kurma dan diminumnya maka keluar dari tenggorokannya, kemudian diberi air susu maka beliau meminumnya dan keluar dari lukanya. Banyak manusia memujinya dan datanglah seorang anak muda dan berkata : “Bergembiralah wahai Amirul Mu’minin dengan berita gembira dari Allah untukmu, dari bersahabat dengan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan apa yang baktikan untuk islam apa engkau telah lakukan kemudian engkau berkuasa dan berlaku adil serta mendapatkan syahadah (mati syahid).” Beliau menjawab : “Saya berharap hal itu cukup untukku (impas)” Ketika anak muda itu pergi dilihatnya kainnya menyentuh tanah, kemudian beliau berkata : Kembalikan anak muda itu kepadaku.” Dan beliau berkata : ” Wahai anak saudaraku ! Angkat kainmu maka itu lebih kekal untuk pakaianmu dan lebih suci untuk Rabbmu.”

Maka betapa perhatian beliau terhadap kain yang menjulur melewati mata kaki (isbal) padahal dalam kondisi terluka parah, karena isbal merupakan dosa besar yang Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengancamnya dengan api neraka. Wallaahu a’lam bi shawaab.

Adapun tentang memelihara jenggot maka berikut ini dalil-dalilnya :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab shahihnya dan yang lainnya dari Abdullah bin Umar radhiyallaahu’anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : ” Waffiru (biarkan) jenggot dan rapikanlah kumis.” Dalam riwayat lain :”Rapikan kumis dan a’fuu (biarkan) jenggot” dalam riwayat lain : ” Anhikuu (rapikan) kumis dan biarkan jenggot.”

Jenggot adalah rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan janggut. Berkata Ibnu Hajar: waffiru yakni dibiarkan menjulur, dan I’faaul lihyah artinya : biarkanlah apa adanya. Dan menyelisihi orang-orang musyrik dijelaskan dengan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Bahwa orang musyrik  membiarkan kumis-kumis mereka dan mencukur jenggot-jenggot mereka, maka selisihilah mereka, biarkanlah jenggot dan rapikanlah kumis.” (HR. Bazzaar dengan sanad hasan). Dan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : “Selisihilah orang Majusi.” Karena mereka memendekkan jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka. Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam menyebutkan orang Majusi maka beliau bersabda : “Mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot mereka, maka selisihilah mereka.”. Dan riwayat Ibnu Hibban juga dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Diantara fitrah Islam adalah : memotong kumis dan membiarkan jenggot, sesungguhnya orang Majusi membiarkan kumis dan memotong jenggot mereka maka selisihilah mereka, potonglah kumis dan biarkanlah jenggot kalian.”. dalam shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Kita diperintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : Diharamkan mencukur jenggot. Berkata Imam Qurtubi : Tidak boleh mencukurnya (jenggot), mencabutnya dan mengguntingnya. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan ijma’ bahwa memotong kumis dan memanjangkan jenggot adalah wajib. Beliau berdalil dengan hadits Ibnu Umar : “Selisihilah orang musyrik, potonglah kumis dan panjangkan njenggot.” Dan hadits Zaid bin Arqam yang marfu’ : “Barang siapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” Dishahihkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya. Dalam kitab Al Furu’ : Ungkapan ini menurut ulama kami menunjukkan haram. Dalam kitab Al Iqna’ : Diharamkan untuk dicukur. Dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang mencukur rambut (jenggotnya) maka tidak ada baginya bagian di sisi Allah.” Berkata Zamahsyari : Yakni mencukurnya dari pipi atau menyemirnya dengan warna hitam. Berkata (Ibnul Atsir) dalam Nihayah : mencukurnya dari pipi atau mencabutnya atau menyemirnya dengan warna hitam.

Maka dari dalil-dalil di atas sudah cukup kiranya untuk menunjukkan haramnya mencukur jenggot karena hal tersebut menyelisihi sunnah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan mengikuti kepada hawa nafsu juga menyerupai orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah ta’ala.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Maa’idah : 77)

“Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah : 145 )

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lain akan tetapi apa yang kita sebutkan insya Allah sudah mencukupi, wallaahu a’lam bishawab.

Allah Menurunkan Penyakit dan Obatnya

بسم الله الرحمن الرحيم

OBATOleh : Ustadz Abu Adib

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam shahihnya, dari shahabat Abu Hurairah  bahwasanya Nabi  bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شَفَاءً

“Tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obatnya”

Dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah  dia berkata bahwa Nabi  bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan pula dari musnad Imam Ahmad dari shahabat Usamah bin Suraik , bahwasanya Nabi  bersabda,

كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ

“Aku pernah berada di samping Rasulullah b. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah I tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih mimma Laisa fish Shahihain, 4/486)

Dari Ibnu Mas’ud , bahwa Rasulullah  bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Sesungguhnya Allah I tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Al-Bushiri menshahihkan hadits ini dalam Zawa`id-nya. Lihat takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma’ad, 4/12-13)

Para pembaca yang mulia, hadits-hadits di atas memberikan pengertian kepada kita bahwa semua penyakit yang menimpa manusia maka Allah  turunkan obatnya. Kadang ada orang yang menemukan obatnya, ada juga orang yang belum bisa menemukannya. Oleh karenanya seseorang harus bersabar untuk selalu berobat dan terus berusaha untuk mencari obat ketika sakit sedang menimpanya.

Namun sangat disayangkan, di masa sekarang terkadang seorang terjatuh pada kesalahan dalam mencari obat. Itu semua disebabkan karena lemahnya kesabaran dan kurangnya ilmu pengetahuan, baik ilmu tentang agamanya maupun ilmu tentang pengobatan. Mereka berobat dengan cara yang berseberangan dengan syari’at bahkan terjatuh dalam pelanggaran syari’at. Bahkan ada pula yang sampai pada cara-cara kesyirikan dan kekufuran, yang mereka istilahkan dengan “Pengobatan Alternatif.”

Dalam beberapa penanganan pasien, sang “dokter alternatif” kadang membacakan bacaan-bacaan tertentu atau mantra-mantra tertentu yang semua mantra dan bacaan itu tidak dikenal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (petunjuk Rasulullah). Mereka juga melakukan gerakan-gerakan tertentu atau mungkin dengan syarat-syarat tertentu yang harus disiapkan sebelum pengobatan.

Terkadang pula kaum muslimin dalam berobat datang kepada orang pinter (paranormal). Sebagian dari mereka tidak menamai diri mereka “dukun” atau “tukang santet”, tapi mereka menamakan diri mereka dengan sebutan “kiyai”. Atribut keislaman yang mereka (kiyai) sandang menjadikan sebab tertipunya kaum muslimin. Seperti jubah putih nan panjang, tasbih yang dikalungkan di lehernya, atau dengan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca atau yang lainnya menjadikan kaum muslimin tertipu. Kaum muslimin mengira mereka sebagai orang yang pinter, shaleh dan sakti mandraguna, sehingga langsung mempercayainya. Padahal Nabi kita yang mulia bersabda,

مَنْ أَتَي عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barang siapa yang mendatangi seorang dukun kemudian dia bertanya tentang sesuatu (dia mempercayainya) maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.”

Ini adalah peringatan sekaligus ancaman dari Rasulullah  tentang besarnya dosa perbuatan tersebut.

Seorang muslim harus selalu berbaik sangka kepada Allah  dan selalu menyadari bahwa Allah  akan memberikan pahala dan ampunan dari dosa dan kesalahannya manakala dia sabar ketika musibah itu menimpa padanya dan harus selalu ingat sabda nabinya yang mulia, dimana Nabi  pernah bersabda,

مَا يُصِيْبَ الْمُسْلِمُ مِنْ نَصْبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذَى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكِهَا إِلَّا كَفَرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim satu kelelahan, kesakitan, kesusahan, kesedihan, gangguan dan gundah gulana sampai terkena duri, maka itu semua menjadi penghapus dari dosa dan kesalahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain Nabi  juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah  kehendaki kebaikan maka Allah akan menimpakan ujian musibah kepadanya.”

Maka sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin ketika diuji dengan suatu penyakit adalah bersabar menjalani sakitnya dan terus berusaha untuk mencari obatnya. Tentu saja dengan pengobatan-pengobatan yang sesuai dengan syari’at.

Para pembaca yang mulia… Lantas, bagaimana pengobatan yang syar’i itu? Alhamdulillah, Allah  dan Rasul-Nya b telah mengajarkan kepada kita, diantaranya:

A.        RUQYATUL QUR’AN (Dibacakan Ayat-ayat Al-Qur’an).

Hal ini berdasarkan firman Allah ,

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’ : 82)

Dijelaskan oleh para ulama bahwa obat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah obat lahiriyah dan batiniah.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Al-Qur’an bisa menjadi obat lahiriyah dengan dibacakan kepada orang yang sakit jasadnya. Adapun Al-Qur’an menjadi obat batiniyah yaitu dengan seorang mempelajarinya, merenungkan makna-makna yang terkandung di dalamnya dan mengamalkan dengan penih keyakinan menjadikan jiwanya tenang.

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim -rahimahullahu- dalam kitabnya Zadul Ma’ad, berkata,

“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi, yang seandainya diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

Pembaca yang budiman, agar lebih meyakinkan kita akan perjelas pernyataan di atas, berikut ini kami sebutkan 3 riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an.

1.         Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau radhiallahu ‘anha berkata,

“Adalah Rasulullah  terkena sihir, sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya. Lalu beliau berkata, ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah  telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’ Dijawab: ‘Terkena sihir.’ Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’  Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’ (Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’ Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’ (Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’ Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”

‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya”. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.” Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya dalam kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, dan diriwayatkan Imam Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272). Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata: “Dan turunlah (firman Allah ):

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ…

Hingga selesai bacaan surah tersebut.”

2.         Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri , beliau berkata,

“Sekelompok shahabat Nabi  berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan kalajengking. Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’ Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu?” Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’ Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing. Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi. Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagikanlah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah  lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’ Merekapun menghadap Rasulullah  kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu Nabi  berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau  tertawa.”

Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:

خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ

“Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.”

Dan hadits:

الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ

“Al-Qur`an adalah obat.”

Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.

3.         Hadits dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi  melihat di rumahnya seorang budak wanita dan di wajahnya terdapat warna (kehitaman) maka (beliau berkata),

‘Ruqyahlah dia, sesungguhnya dia terkena penyakit ‘ain (pandangan jahat).” (HR. Bukhari no. 5739 dan Muslim no. 2197)

B.        DO’A

Nabi  bersabda,

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ وَنُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Do’a adalah senjatanya orang yang beriman dan tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi.”

Hadits ini dilemahkan oleh syaikh Al-Albani, akan tetapi secara makna dijelaskan dalam riwayat yang shahih yaitu kisahnya seorang wanita hitam yang tertimpa penyakit asra’ (epilepsy). Dia datang kepada Nabi  dan berkata,

“Ya… rasulullah, saya menderita penyakit asra’. Tiap kali kambuh, auratku tersingkap. Maka do’akanlah aku supaya Allah menyembuhkan penyakitku”, Nabi  pun bersabda, “Kalau aku do’akan kepada Allah maka akan sembuh penyakitmu. Akan tetapi jika kamu sabar, maka bagimu surga.” Kemudian wanita itu memilih untuk bersabar.

Diterangkan oleh Syaikh Salim Al-hilaly bahwa berdo’a itu adalah salah satu sebab disembuhkannya penyakit.

Juga dalam hadits di atas memberikan faidah tentang bolehnya seorang datang kepada Ahlul Fadhli (orang yang mempunyai keutamaan) orang yang dikenal dengan ketaqwaannya kepada Allah , keshalihannnya, ahli ilmu, untuk meminta dido’akan kepada Allah  atas kesembuhan penyakitnya.

C.        IKHTIAR SYAR’IYAH (Melakukan Usaha Yang Dibenarkan Syari’at)

Artinya, seorang melakukan usaha yang dzahir (yang tampak) untuk mencari sebab datangnya kesembuhan. Misalnya, datang ke dokter yang ahli, minum madu, melakukan hijamah (bekam), atau usaha-usaha yang tidak dilarang oleh syari’at. Wallahu a’lam bish Shawab.

Maraji’ : Riyadhus Shalihin karya Al-Imam Abu Zakaria bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi (631-676 H) dan Ad-Daau wad-Dawaa karya Al-Imam Al-Muhaqqiq Al-‘Alaamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.

SUMBER : ALMADINAH.OR.ID

Profil Madrasah Salafiyah Ula (MSU) Al Karimah

Sekilas Pandang PP Al Karimah Karanganyar

Alamat : Badran Mulyo RT. 03/ RW 14 Lalung Kabupaten Karanganyar

E mail : Majma.karima@gmail.com

Telp. 0271 5871232

 

MUQODIMAH

Pondok Pesantren Al Karimah Karanganyar (AKK) adalah lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Majma Karima Karanganyar. Pondok Pesantren ini di rintis sejak tahun 2014 dengan tujuan untuk menyebarkan dakwah Ahlu Sunnah Waljama’ah. Dengan tujuan mulia tersebut di harapkan dakwah Ahlu Sunnah Waljamaah dapat berkembang dengan baik di lingkungan Kabupaten Karanganyar dan di Indonesia pada ummnya, karena PP Al Karimah ini terbuka untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia.

PP AKK berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengembangkan konsep pendidikan  dengan materi Diniyah Islamiyah dan Materi-materi umum yang dipadukan dalam sebuah kurikulum komprehensip yang juga mengaju pada kurikulum yang dikembangkan oleh Kerajaan Saudi Arabia. Dengan demikian diharapkan alumni dari PP AKK mempunyai kompetensi yang unggul baik Diniyah maupun bekal ilmu pengetahuan.

Adapun beberapa program yang dikembangkan di PP AKK meliputi :

  1. Setingkat Raudhotul Athfal (RA) Al Karimah
  2. Setingkat Madrasah Salafiyah Ula (MSU) Al Karimah
  3. Setingkat Madrasah Salafiyah Wustho (MSW) Al Karimah

 

MOTTO : “Beraqidah Shahihah, Berakhlaqul Karimah”

 

VISI & MISI

Visi : Membentuk generasi muslim yang beraqidah shahihah dan berakhlaqul karimahh.

Misi :

  1. Menjadi lembaga pendidikan yang berperan akktif dalam pembentukan aqidah yang shahihah.
  2. Membangun pada diri santri/peserta didik agar memiliki akhlaq yang mulia.
  3. Membentuk generasi yang shalih, Cerdas, dan memiliki skill mandiri
  4. menjadi lembaga pendidikan islam terdepan dalam mencetak generasi qur’ani.
  5. Membangun budaya rajin beribadah dan berprestasi

 

JENJANG PENDIDIKAN YANG DIKEMBANGKAN

  1. RA AL KARIMAH
  2. MSU AL KARIMAH
  3. MSW AL KARIMAH
  4. Ma’had Lughowi Alkarimah (Program penyiapan Bahasa Arab bagi para da’i)

 

TENAGA PENDIDIKAN

Pelaksanaan program pendidikan di PP AKK di tangani oleh pendidik-pendidik profesional yang berasal dari Alumni Perguruan Tinggi di Kerajaan Saudi Arabia, Mesir, LIPIA dan perguruan tinggi ternama di Indonesia. Diharapkan dengan para pendidik yang mempunyai kwalifikasi di bidangnyaa tersebut para alumni PP AKK dapat melanjutkan Studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Untuk meningkatkan kompetensi dalam pengajarannya maka para ustadz dan ustadzah dibekali berbagai pelatihan seperti workshop, symposium dan training-training. Dengan demikian para ustadz-ustadzah dapat mengembangkan program pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenagkan.

FASILITAS

  1. Perpustakaan, Laboratorium IPA, Komputer dan Multimedia
  2. Gedung lantai 2
  3. Lapangan Olahraga
  4. Masjid yang besar

 

TARGET LULUSAN SDIT AL KARIMAH

  1. Beraqidah shahihah
  2. Berakhlaqul karimah
  3. Bisa membaca al-Qur’an
  4. hafal Al-qur’an 6 Jus
  5. Hafal hadist-hadist pilihan
  6. Mampu menulis tulisan arab dengan benar
  7. Mampu mempraktikkan ibadah praktis (wudhu, sholat dan puasa)
  8. Menguasai dasar-dasar bahasa arab dan bahasa inggris
  9. lulus UAN

 

EKSTRA KURIKULER

  1. Renang
  2. Memanah
  3. Futsal
  4. Ketrampila ringan
  5. Pidato Bahasa Arab/Inggris
  6. Kepanduan Al karimah
  7. Beladiri

 

NILAI-NILAI YANG DI AJARKAN KE PARA SANTRI/PESERTA DIDIK

  1. Beraqidah Shahihah
  2. Rajin Beribadah
  3. Berakhlaqul Karimah
  4. Mandiri dan Beprestasi
  5. Mempunyai Ketrampilan Hidup/Jiwa Wira Usaha
  6. Disiplin, Jujur,Amanah dan Bertanggung Jawab

 

PRESTASI

  1. Juara 1 Tahfidz Se Solo Raya Tahun 2016
  2. Juara 1,2,3 Lomba tahfidz Se Kabupaten Karanganyar Tahun 2016