Sholat Wajib di Bis

السؤال

أفيدكم أني أعمل لدى شركة ونظام عملنا ورديات , ولكن في فصل الشتاء عندما نذهب إلى الحافلة صباحا يكون قد دخل وقت الفجر بعد أن تنطلق الحافلة بفترة قصيرة وهذا يعني أن وقت صلاة الفجر يدخل ويخرج أثناء ما نكون في الحافلة, ولا نصل إلى مكان العمل إلا بعد طلوع الشمس .

السؤال :\ هل يجوز أن أصلي الفجر في الحافلة جالسا حفاظا على الوقت أم يجب أن لا أصلي جالسا في الحافلة وأنتظر حتى أصل ولو طلعت الشمس ؟

وجزاكم الله خيرا .
📩 Pertanyaan :
Saya ceritakan kepada anda. Saya bekerja disebuah perusahaan yang sistem jam kerja kami dimulai pagi hari. Tetapi di musim dingin, ketika kami berangkat menggunakan otobis di pagi hari, kadang – kadang waktu sholat subuh mulai masuk tidak lama setelah bis berangkat. Artinya waktu sholat shubuh dimulai dan berakhir ketika kami naik bis sementara kami tiba ditempat kerja hanya setelah matahari terbit.
Pertanyaan saya adalah: Apakah saya boleh sholat didalam bis dengan duduk agar kami tidak kehilangan waktu sholat,
ataukah tidak harus sholat di bis dengan duduk, sambil menunggu sampai tujuan sementara matahari sudah terbit?. Jazakalloh khoiron.

الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فيحسن تنبيهك على ما يلي:

أولا: عليك بذل الجهد أنت ومن معك من الركاب في سبيل إقناع سائق الحافلة بأن يتوقف بكم وتؤدون الصلاة في وقتها جماعة، وفي الغالب لا يمتنع السائقون عن مثل هذا، خصوصا أنكم في بلد تحترم فيه فرائض الله تعالى، فإن امتنع السائق أو القائمون على الشركة فبلغوا أمركم للجهات المختصة كالمحاكم وهيئة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.

ثانيا: فإن امتنع السائق المذكور وخشيت إذا نزلت وأديت الصلاة في وقتها حدوث مشقة من ذهاب الرفقة عنك أو خوف على نفسك ومالك، فتؤدي الصلاة في الحافلة، فإن أمكنك استقبال القبلة والقيام والركوع والسجود فحسن، وإلا، فصلِّ حسب استطاعتك.

ثالثا: ثم بعد نزولك تقوم بإعادة تلك الصلاة احتياطا، فهذا هو ما تستطيع، ولا يكلف الله نفسا إلا وسعها.

وقال تعالى: [فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ] (التغابن: 16).
وراجع الجوابين التاليين:  14833، 9766.

وراجع أيضا الجواب: 37409.

والله أعلم.

🚎 Jawab :

Puji syukur kepada Allah. Sholawat dan salam bagi Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau.

Ada baiknya untuk anda perhatikan beberapa hal berikut :

1⃣ Anda dan para penumpang lain wajib berusaha agar driver mau menghentikan bis untuk melakukan sholat pada waktunya secara berjamaah. Secara umum untuk masalah seperti ini para driver tidak menolak, terlebih lagi anda tinggal di sebuah negara yang menghormati hak – hak Alloh. Apabila driver dan para pelaksana tugas perusahaan menolak, laporkan perkara anda kepada pihak – pihak yang berkompeten, seperti pengadilan dan lembaga amar ma’ruf nahi munkar.

2⃣ Apabila driver tersebut menolak, sementara anda khawatir akan terjadinya kesulitan apabila anda turun dari bis untuk mengerjakan sholat karena penumpang lain meninggalkan anda atau karena khawatir kondisi dan harta anda, maka anda boleh sholat di bis. Apabila anda bisa menghadap kiblat, berdiri, rukuk, dan sujud, maka inilah yang benar. Jika tidak bisa maka sholatlah sesuai kemampuan anda.

3⃣ Setelah anda turun, ulangilah sholat anda untuk kehati – hatian, karena inilah yang bisa anda lakukan, sementara Alloh hanya membebani orang yang mampu. Allohu ta’ala berfirman:

[فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ] (التغابن: 16).
” Bertakwalah kepada Allah menurut kemampuan kalian ”
(Surat At-Taghaabun : 16)

Allahu a’lam

📚 Sumber : http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=46043

🚌 Abu  Muadz 🚍

Beberapa masalah berkaitan dengan jenis-jenis mandi, apakah ia mencukupi untuk sholat dengan tanpa wudhu..??

 ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ : ﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺩﺍﺧﻞ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻐﺴﻞ، ﻭﺃﻥ ﻧﻴﺔ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﺗﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﺤﺪﺙ ﻭﺗﻘﻀﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻷﻥ ﻣﻮﺍﻧﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻣﻮﺍﻧﻊ ﺍﻟﺤﺪﺙ، ﻓﺪﺧﻞ ﺍﻷﻗﻞ ﻓﻲ ﻧﻴﺔ ﺍﻻﻛﺜﺮ، ﻭﺃﺟﺰﺃﺕ ﻧﻴﺔ ﺍﻷﻛﺒﺮ ﻋﻨﻪ .

🍁 orang yang telah mandi janabah bisa langsung sholat tanpa harus wudhu.

Berkata Ibnu Al-aroby rohimahullah :

” Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa taharoh dengan wudhu itu masuk di bawah taharoh dengan mandi besar, niat untuk melakukan taharah karena janabah sudah masuk di dalamnya taharoh untuk hadast kecil, & taharoh janabah sudah memback up taharah karena hadast kecil, karena penghalang yang ada disebabkan oleh janabah lebih banyak ketimbang penghalang yang terdapat karena sebab hadast kecil, jadi, niat taharah karena hadast kecil sudah masuk dalam niat taharah karena janabah, dan taharah karena janabah ini sudah mencukupi taharah karena hadast (sehingga ga butuh wudhu lagi setelah mandi janabah).”

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺨﺮﺷﻲ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺧﻠﻴﻞ : ﻓﺈﻥ ﺍﻗﺘﺼﺮ ﺍﻟﻤﺘﻄﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺃﺟﺰﺃﻩ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ، ﺃﻣﺎ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻼ ﻳﺠﺰﺉ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ، ﻭﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﺼﻼﺓ . ﺍﻧﺘﻬﻰ

🍁 orang yang melakukan mandi janabah, mencukupi baginya untuk langsung solat, namun mandi yang lain (selain janabah) tidaklah mencukupi, & harus melakukan wudhu terlebih dahulu.

Berkata Al-Khorsyi. rohimahullah dalam kitab Mukhtasor kholil :

” Jika seorang yang bersuci mencukupkan diri hanya dengan mandi saja tanpa melakukan wudhu, itu sudah mencukupinya, ini jika mandinya adalah mandi wajib (janabah), adapun mandi yang lain selain mandi janabah (mandi jumat, mandi biasa, mandi untuk mendinginkan diri) tidak bisa menjadi pengganti wudhu/tidak mencukupinya, dan ia harus berwudu terlebih dahulu jika hendak solat.”

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻭﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﺿﺄ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻐﺴﻞ ، ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﺣﺼﻞ ﻧﺎﻗﺾ ﻣﻦ ﻧﻮﺍﻗﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻩ، ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﺿﺄ ﻟﻠﺼﻼﺓ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺤﺪﺙ ﻓﺈﻥ ﻏﺴﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻳﺠﺰﺉ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﻮﺍﺀ ﺗﻮﺿﺄ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺃﻡ ﻟﻢ ﻳﺘﻮﺿﺄ.

🍁 jika ada pembatal wudhu di tengah proses mandi, atau setelah mandi

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah berkata :

” Tidak ada kewajiban bagi seseorang yang mandi janabah untuk berwudhu lagi setelahnya, kecuali jika ada salah satu pembatal dari pembatal-pembatal wudhu di tengah prosesi mandi atau setelahnya, ketika itu terjadi, maka wajib baginya untuk berwudu jika hendak solat, namun jika tidak didapati pembatal wudhu, mandi janabah yg ia lakukan sudah mencukupi dari wudhu, entah ia sudah wudhu terlebih dahulu sebelum mandi janabah ataukah belum.”

🍂 Kesimpulan :

1. Mandi janabah bisa mewakili wudhu, orang yang melakukan mandi janabah kmudian hendak solat, tidak butuh lagi baginya untuk berwudhu.

2. Mandi yang bisa mewakili wudhu ini hanyalah mandi janabah saja, tidak untuk mandi yg lain.

3. Jika terjadi adanya salah satu pembatal wudhu di tengah mandi atau setelahnya, wajib untuk berwudu ketika hendak solat.

Wallahu a’lam

📙 :
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=128234

# Setyawan Tugiyono #

Sering Safar, Masihkah Mendapat Rukhshoh Safar

Sering Safar, Masihkah Mendapat Rukhshoh Safar 🚛🚚

السؤال : من كان سفره دائماً هل يترخص برخص السفر ؟؟؟

🚚 Pertanyaan : Seseorang sering melakukan safar ( bepergiaan jauh), apakah masih mendapatkan rukhshah ( keringanan) ketika safar ? 🚚

الجواب : قصر الصلاة متعلق بالسفر فما دام الإنسان مسافراً فإنه يشرع له قصر الصلاة سواء كان سفره نادراً أم دائماً إذا كان له وطن يأوي إليه ويعرف أنه وطنه ..”انتهى

🚍Jawaban : Mengqoshor sholat berhubungan dengan safar. Selama seseorang masih musafir ( orang yang bepergian jauh ) maka tetap disyariatkan baginya mengqoshor sholat, baik safarnya jarang maupun sering apabila dia memiliki sebuah tempat tinggal yang dia tempati dan diketahui bahwa tempat tersebut adalah tempat tinggalnya. Selesai …🚍

📔 مجموع فتاوى و رسائل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله📔

📋 Majmu’ Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah. 📋

🌈 Alih Bahasa : Abu Abdillah Purwoko S.Pd.

Ketika hendak sholat, tapi di depan masjid ada kuburannya

Ketika hendak sholat, tapi di depan masjid ada kuburannya

 

ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﺃﻭ ﺷﻤﺎﻟﻪ ﺃﻭ ﺃﻣﺎﻣﻪ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺆﺛﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ ﻭﺻﺤﺘﻬﺎ، ﻭﺟﺪﺍﺭ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻛﺎﻑ ﻟﻠﻔﺼﻞ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﻘﺒﺮﺓ .

ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺩﺍﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺇﻥ ﺣﻮﻁ ﺑﺠﺪﺍﺭ ﻓﻼ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ.

 

Jika kuburannya berada di luar masjid, entah di sisi kanannya, atau kirinya, ataukah di depannya, kesemuanya itu tidaklah mempengaruhi adanya pelaksanaan solat di masjid tersebut, dan tidaklah pula mempengaruhi keabsahan solat di dalamnya,

Cukuplah dinding masjid menjadi pembatas antara masjid tersebut dengan kuburan, adapun jika kuburannya berada di dalam masjid, walaupun kuburan tersebut dikelilingi dengan dinding tersendiri, maka yang seperti ini tidak dibolehkan untuk dilaksanakan solat di dalamnya.

http://fatwa2.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=27410?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=27410

Dalam kesempatan lain Asy-Syaikh Bin Baz rohimahullah berkata :

 

ﻻ ﺣﺮﺝ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﻛﺎﻓﻴﺔ ﻣﺎ ﺩﺍﻡ ﺍﻟﻤﻘﺒﺮﺓ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﺣﺎﺟﺰ ﺳﻮﺭ، ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﻭﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻪ ﺳﻮﺭ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﻤﻘﺒﺮﺓ ﻓﻼ ﺣﺮﺝ، ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺍﻣﻪ ﺍﻟﻤﻘﺒﺮﺓ ﻣﺤﺠﻮﺯﺓ ﻭﻣﺴﻮﺭﺓ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ، ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ، ﺃﻣﺎ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﻣﻘﺒﺮﺓ ﺧﺎﺭﺟﻴﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻣﺤﺠﻮﺯ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﺫﻟﻚ.

 

” Tidak mengapa hukumnya solat di masjid tersebut, dan solatnya mencukupi, selagi kuburannya berada di luar masjid, dan terdapat antara keduanya (masjid & kuburan) sebuah pembatas berupa dinding tembok, antara masjid dan kuburan ada dinding pembatas di luar kuburan, tidak mengapa yang seperti ini,

Maksudnya ialah, masjid yg ada di depannya kuburan, kuburannya terbatasi & terkelilingi dinding, yang seperti ini tidaklah masalah alhamdu lillah,,

Yang tidak diperbolehkan itu jika kuburannya di dalam masjid, inilah bentuk kemungkaran, adapun jika perkara kuburannya di luar masjid dan dikelilingi oleh pembatas, hal ini tidaklah mengapa.”

https://binbaz.org.sa/noor/11976

Wallahu a’lam

 

# Setyawan Tugiyono #

Hukum musafir mengimami makmum mukim

Hukum musafir mengimami makmum mukim

السؤال : إمامة المسافر للمقيم ؟؟؟

Pertanyaan :

Apakah seorang musafir boleh  menjadi imam bagi muqim(penduduk setempat) ?

الجواب : يجوز للمسافر أن يكون إماماً للمقيمين، وإذا سلم يقوم المقيمون فيتمون الصلاة بعده ولكن ينبغي للمسافر الذي أم المقيمين أن يخبرهم قبل الصلاة فيقول لهم إنا مسافرون فإذا سلمنا فأتموا صلاتكم، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بمكة عام الفتح وقال لهم : ( أتموا يا أهل مكة فإنا قوم سفر ) فكان يصلي بهم ركعتين وهم يتمون بعده ..
Jawaban :

Seorang musafir boleh menjadi imam bagi orang-orang yang muqim (penduduk setempat),  apabila imam musafir telah salam (imam musafir mengqosor sholat) maka makmum muqim berdiri untuk menyempurnakan shalat, tetapi sebelum sholat, sebaiknya seorang musafir yang mengimami makmum muqim memberitahu mereka dengan berkata : ” Kami adalah musafir. Apabila kami telah salam maka sempurnakanlah sholat kalian!” karena Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam pernah sholat di Makkah pada tahun penaklukan kota Makkah, dengan berkata kepada penduduk Makkah : ” Wahai penduduk Makkah! Sempurnakankah sholat kalian, karena kami adalah kaum yang sedang safar ” kemudian beliau mengimami penduduk Makkah 2 rokaat, sementara setelah Rosululloh salam penduduk Makkah menyempurnakan sholat mereka.

📔مجموع فتاوى و رسائل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله📔

Majmu’ Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah.

Alih Bahasa : Abu Abdillah Purwoko

Keutamaan Ilmu atas Harta

📑 Berkata Imam *Ibnul Qoyyim* _rahimahullah_ dalam kitab *_Miftah Daris Sa’adah_*:

💠 *Keutamaan ilmu atas harta bisa diketahui dari beberapa sisi diantaranya:*

✅⏭ Ilmu merupakan warisan para Nabi, dan harta merupakan warisan para raja dan hartawan.

✅⏭ Ilmu menjaga pemiliknya, dan pemilik harta menjaga hartanya.

✅⏭ Harta berkurang dengan pemberian, dan ilmu bertambah dengan pemberian.

✅⏭ Pemilik harta kalau meninggal dunia berpisah dengan hartanya, dan ilmu masuk ke kuburan bersama pemiliknya.

✅⏭ Ilmu menghakimi harta, dan harta tidak bisa menghakimi ilmu.

✅⏭ Harta ada pada orang yang beriman dan kafir, orang baik dan buruk, sedangkan ilmu yang bermanfaat tidak ada kecuali pada orang yang beriman.

✅⏭ Pemilik ilmu membutuhkannya para raja dan orang-orang yang di bawahnya, dan pemilik harta tak lain membutuhkannya orang-orang yang tidak punya dan tidak mampu saja.

✅⏭ Jiwa menjadi mulia dan suci dengan mengumpulkan ilmu -hal ini dikarenakan kesempurnaan dan kemuliyaan ilmu- , adapun harta tidak menyucikannya, tidak menyempurnakannya, tidak pula menambah sifat kesempurnaan, bahkan jiwa menjadi rendah, kotor, dan bakhil dengan mengumpulkannya dan tamak padanya, maka ketamakan terhadap ilmu adalah kesempurnaan ilmu itu sendiri dan ketamakan terhadap harta merupakan kekurangan harta itu sendiri.

✅⏭ Harta menyeru ke perbuatan melampaui batas, berbangga-bangga dan bermegah-megahan, sedangkan ilmu menyeru ke perbuatan merendahkan diri dan penghambaan, dan harta menyeru ke sifat para raja sedangkan ilmu menyeru ke sifat para hamba.

✅⏭ Ilmu menarik dan menghantarkan makhluk ke kebahagiaan yang dia diciptakan karenanya, dan harta menghalangi makhluk dari kebahagiaannya.

✅⏭ Cinta ilmu dan penuntutannya asal dari semua ketaatan, dan cinta dunia dan harta serta penuntutannya asal dari semua kejelekan.

✅⏭ Harga diri orang yang kaya dinilai dari hartanya, dan dia tegak dengan hartanya, maka jika hilang hartanya hilang pula harga dirinya, sedangkan harga diri orang yang berilmu dinilai dari ilmunya dan selalu ada, bahkan bertambah dengan berlipat ganda.

✅⏭ Tidaklah seseorangpun mentaati Allah kecuali dengan ilmu, dan kebanyakan yang memaksiati Allah, tak lain memaksiati-Nya dengan harta.

✅⏭ Orang yang berilmu menyeru manusia kepada Allah dengan ilmunya dan keadaannya, dan orang yang berharta menyeru manusia ke dunia dengan keadaannya dan hartanya.

✅⏭ Kaya harta kebanyakannya merupakan sebab kebinasaan pemiliknya, dan sesungguhnya itu perkara yang dicintai jiwa, maka jika jiwa melihat orang yang mengutamakan perkara yang dicintai dari dirinya, maka dia akan mengusahakan dalam kebinasaannya, seperti kenyataan yang ada. Adapun kaya ilmu sebab kehidupan seseorang dan kehidupan selainnya, dan manusia jika melihat orang yang menuntut dan mengutamakan ilmu atas mereka, maka mereka mencintainya, melayaninya dan memuliyakannya.

✅⏭ Harta akan dipuji pemiliknya dengan mengosongkan dan mengeluarkannya, dan ilmu dipuji dengan berhias dan bersifat dengannya.

✅⏭ Orang yang kaya harta harus berpisah dengan kekayaannya, maka dia tersiksa dan tersakiti ketika berpisah dengannya, orang yang kaya ilmu tidak akan sirna ilmu itu darinya, sehingga dia tidak tersiksa dan tersakiti, maka kelezatan kaya harta terputus, sirna dan berakibat kepedihan, sedangkan kelezatan kaya ilmu tetap ada, terus menerus dan tidak berakibat kepedihan.

📚 *_(Miftah Daris Sa’adah 1/418-421)_*

Batasan Jumlah Peserta Iuran Dalam Berkurban

Segala puji bagi Allohu ta’ala sholawat serta salam bagi Rosululloh, keluarganya dan sahabatnya, amma ba’du.
Ikhwani fillah yang semoga dirahmati Allohu ta’ala, tidak semua binatang bisa dijadikan hewan kurban, binatang yang boleh dijadikan sebagai hewan kurban adalah hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing/domba, hal ini berdasarkan firman Allohu ta’ala:
ليذكروا اسم الله على ما رزقكم من بهيمة الأنعام
Agar mereka menyebut nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah direzkikan kepada mereka. Q.S al-Hajj 34.
Para ulama telah berijma’ bahwa hewan kurban yang sah  adalah binatang ternah. ( shohih fiqh sunnah 2/369 )
Adapun rincianya adalah sebagai berikut;
1⃣ Batasan iuran kurban kambing.

satu ekor kambing cukup untuk satu orang dan anggota keluarganya, berdasarkan hadits dari Abu Ayyub – rodhiyallohu anhu – beliau berkata :
كان الرجل في عهد رسول الله يضحى بالشاة عنه و أهل بيته، فيأكلون و يطعمون.
Dulu dijaman Rosululloh -alaihis sholatu was salam- ada seorang laki – laki yang berkurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan anggota keluarganya, kemudian mereka memakanya dan membagikannya”. H.R Tirmidzi 1509 dan

dia menshohihkanya, dan ibnu majah 3147.

Satu ekor kambing lebih utama dari satu ekor unta atau sapi untuk 7 orang. ( Mulakhos Fiqh 1/324 )
Syaikh ibnu Utsaimin dalam syarhul mumti’ 07/464 mengatakan : “Keikut sertaan dalam pahala tidak ada batasannya, karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkuran atas nama semua ummatnya, dan seorang laki-laki berkurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan anggota keluarganya, meskipun jumlah mereka seratus orang”.
2⃣ Batasan iuran kurban sapi.
Satu ekor sapi bisa untuk berkurban untuk 7 orang.
Telah diketahui bahwa

Rosululloh -alaihis sholatu was salam- dan para sahabatnya berkurban dengan satu ekor sapi dan unta, jumhur ulama membolehkan berkurban dengan satu ekor sapi atau satu ekor unta untuk 7 orang, dan itu cukup bagi mereka, berdasarkan hadits dari sahabat Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:
نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة.
“Kami berkurban bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada tahun perjanjian Hudaibiyah dengan satu ekor badanah (unta gemuk) untuk tujuh orang, dan satu ekor sapi juga untuk tujuh orang”. H.R muslim 1318. ( Shohih fiqh sunnah 2/329 ).
3⃣ Batasan iuran kurban unta.
Adapun unta ada perbadaan ulama dalam jumlah maximal  bolehnya berserikat dalam berkurban unta, menjadi 2 pendapat.
1. Satu ekor unta untuk 7  orang.
2. Satu ekor unta boleh untuk 10 orang.

1. Adapun jumhur ulama ( mayoritas ulama ) berpendapat bolehnya 7 orang berserikat dalam kurban sapi dan unta, ini cukup bagi mereka, berdasarkan dalil dari sahabat Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:
نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة
“Kami berkurban bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada tahun perjanjian Hudaibiyah dengan seekor badanah (unta gemuk) untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang”. HR muslim 1318.( shohih fiqh sunnah 2/329 )
2. Ishaq ibnu Khuzaimah dan yang lainya bahwa badanah ( unta yg gemuk ) cukup untuk 10 orang, berdasarkan hadits ibnu abbas – rodhiyallohu anhu – ia berkata :
كنا مع رسول الله في سفر فحضر الأضحى، فاشتركنا في البقرة سبعة و في البعير عشرة
Kami pernah safar bersama Rosululloh – alaihis shlatu was salam- kemudian hari raya idul adha tiba, maka kami berserikat dalam kurban sapi unta 7 orang dan unta untuk 10 orang.
Imam Syaukani berkata : Seekor badanah ( unta yang gemuk ) cukup untuk 10 orang dalam udhiyah (kurban), dan 7 orang dalam had (kurban bagi jamaah haji). untuk menjamak 2 dalil (yg seolah-olah kontradiktif, pent).
Jumhur ulama ( mayoritas ulama ) membatasi hanya 7 orang saja, karena mereka mengkiaskan kurban dengan had.
Guru kami ( syaikh Albani ) berkata : jika shohih hadits ini maka perkataan ini adalah perkataan yg diada – adakan, karena haditsnya telah jelas dalam bab ini, akan tetapi jiwaku menyatakan ada sesuatu didalamnya, karena Husain bin Waqid menyendiri dalam periwayatan hadits ini, meskipun dia orang yg tsiqoh ( kuat hafalanya, bisa diterima haditsnya, pent ) – secara global -, akan tetapi Imam Ahmad berkata mengenai dirinya : Dalam haditsnya ada tambahan dan aku tidak tau apa itu.
Aku katakan ( Abu malik kamaal ibnu sayid saalim pengarang fiqh sunnah ) hadits ibnu abbas dikuatkan oleh hadits Rofi’ ibnu Khodij, dia berkata :
كان النبي صلى الله عليه و سلم يجعل قسم الغنائم عشرا من الشاء ببعيرا
Nabi Muhammad pernah membagikan harta rampasan perang berupa seekor unta untuk 10 orang
( Shohih fiqh sunnah 2 hal 369-370 ).
💎 Kesimpulan

1. Hewan yang boleh dikurbankan hanyalah kelompok hewan ternak, seperti unta, sapi, kambing/domba.
2. Boleh berkurban dengan seekor kambing untuk diri sendiri dan keluarganya.
3. Boleh berkurban dgn seekor sapi untuk 7 orang.
4. Boleh berkurban dgn seekor unta untuk 7 orang atapun 10 orang
📚 Sumber :

– Mulakhos fiqh Syaikh Fauzan

– Syarhul mumti’  Syaikh Utsaimin

– Shohih fiqh sunnah Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim.
📝 Ditulis oleh

Abu Muadz Indrajad

Bolehkah memotong rambut dan kuku ketika akan berkurban?

✉ pertanyaan.
Apakah diperbolehkan bagi seseorang yg hendak berkurban untuk mencukur rambutnya dan memotong kukunya?
📝 jawaban.
Puji syukur kepada Allohu ta’ala
syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata :
apabila seseorang hendak berkurban dan bulan dzulhijah telah tiba baik dengan cara ru’yatul hilal ( melihat bulan ) atau dengan menyempurnakan bilangan bulan dzulqo’dah menjadi 30 hari, maka diharamkan bagi orang yang hendak berkurban mencukur rambut atau memotong kuku atau mencukur bulu – bulu yang ada dikulit, sampai dia menyembelih binatang kurban miliknya, hal ini berdasarkan hadis dari ummu salamah rodhiyallohu anha bahwasanya Rosulluloh alaihis sholatu was salam berkata :
: ” إذا رأيتم هلال ذي الحجة ، وفي لفظ : ” إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره “. رواه أحمد ومسلم ، وفي لفظ : ” فلا يأخذ من شعره وأظفاره شيئاً حتى يضحي ” ، وفي لفظ : ” فلا يمس من شعره ولا بشره شيئاً
apabila kalian telah melihat hilal (bulan sabit yg menunjukan telah masuknya bulan baru dalam penanggalan hijriyah ) bulan dzulhijah, dan disebutkan dalam sebuah lafadz, apabila kalian telah memasukan sepuluh hari pertama (didalam bulan dzulhijah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka hendaknya di menahan dirinya untuk tidak memotong sedikipun dari rambutnya dan kukunya. HR imam ahmad   ( 26696 ) 6 / 311 dan imam muslim ( 1977 ) 3 / 1565. dan disebutkan dalam sebuah riwayat : maka hendaknya dia tidak mengambil (memotong) sesuatupun dari rambut dan  kukunya sampai dia menyembelih hewan kurbanya, dan disebutkan dalam riwayat yang lain : maka hendaknya orang yg hendak berkurban untuk tidak menyentuh (mencukur) sesuatu apapun dari rambut dan kulitnya.
akan tetapi apabila sesorang berniat untuk berkurban dipertengan 10 hari pertama dibulan dzulhijah maka hendaknya dia menahan dirinya dari perkara itu ( mencukur rambut atau memotong kuku ) dan tidak ada dosa baginya apabila dia terlanjur telah memotong kuku dan mencukur rambut sebelum niat.
hikmah dari larangan ini, bahwasanya ketika seseorang yang berkurban maka dia tergabung dengan orang yg berhaji disebagian amalan manasik haji yaitu mendekatkan diri kepada Allohu dengan cara menyembelih kurban, maka orang yg berkurban baginya sebagian kekhususan  seperti orang yang berihrom yaitu larangan mencukur rambut dan memotong kuku.
ini adalah hukum yg sifatnya khusus bagi orang yg berkurban, adapun kurban yg diatas namakan orang lain maka orang tersebut ( yg kurban diatas namakan untuknya ) tidak ada hubunganya dengan hal ini. karena Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam berkata :

: ” وأراد أحدكم أن يضحي ”
barang siapa yang hendak berkorban.
dan beliau tidak berkata :

أو يضحى عنه

atau kurban yang diatas namakan orang lain.

karena nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam pernah berkurban yang diatas namakan untuk keluarga beliau, dan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rosululloh memerintahkan keluarganya untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku.
maka oleh sebab itu boleh bagi keluarga orang yang berkurban untuk mencukur rambut, bulu di kulit dan memotong kuku di sepuluh hari pertama dibulan dzulhijah.
dan apabila seseorang yg hendak berkurban ingin mencukur rambutnya, memotong kukunya maupun mencukur bulu kulitnya, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allohu dan tidak mengulangi hal tersebut, dan tidak ada kafaroh ( tebusan dosa ) baginya, dan hal tersebut tidak merintanginya untuk berkurban, seperti yg disangka oleh sebagian orang awam, dan apabila orang yg berkurban memotong kukunya, mencukur rambut atau bulu kulitnya karena lupa atau tidak tau, atau rambutnya rontok tanpa disengaja, maka dia tidak berdosa. dan apabila orang yg berkurban berhajat untuk memotong kuku, dan mencukur rambut atau bulu kulitnya maka diperbolehkan untuk mencukur atau memotongnya dan dia tidak berdosa, seperti kukunya patah dan patahan kuku itu menganggunya maka boleh untuk dipotong, atau rambutnya rontok diwajahnya maka boleh dihilangkan, atau dia butuh untuk memotong/mencukurnya untuk mengobati luka dan yg sejenisnya.
sumber = https://islamqa.info/ar/36567
📝alih bahasa

Abu Muadz Indrajad

Dampak Negative Terorisme

Dampak Negative Terorismeبسم الله الرحمن الرحيم

Pembaca yang budiman, pelaku tindakan terorisme mengatasnamakan Islam. Mereka meyakini apa yang mereka perbuat adalah suatu kebaikan dan menegakkan jihad di jalan Allah .

Salah satu alasan mereka, tentara Yahudi, Amerika, dst, telah membantai sekian ribu kaum muslimin. Maka mereka merasa perlu membalas tindakan biadab itu… Tapi apakah cara yang mereka tempuh itu benar? Lempar batu sembunyi tangan, setelah “ngebom” lari dan  bersembunyi… Apakah hal seperti ini benar? Akibatnya, banyak kaum muslimin yang tidak berdosa “kena getah” dari perbuatan keji mereka itu.

Pada edisi kali ini, kami akan menyebutkan beberapa perkara yang menjadi dampak negatif tindakan terorisme ini, dengan harapan agar tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi semua pihak yang gelisah dan bingung atas tindakan ini.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari terorisme antara lain adalah,

1.         Tindakan Terorisme merupakan bentuk penentangan terhadap Allah  dan Rasulullah . Segala bentuk perbuatan kerusakan, peledakan, dan aksi-aksi terorisme adalah terlarang dalam agama ini. Demikian pula menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan kaum muslimin, kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’man adalah haram menurut dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu kita jelaskan, bahwa ada pembagian orang-orang kafir menurut syari’at Islam yang mulia ini.

Pertama: Kafir Dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih mentaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.

Kedua: Kafir Mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati.

Ketiga: Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan (termasuk di dalam kategori ini adalah turis asing yang datang ke negara muslim, pedagang, utusan & orang yang mau masuk Islam)

Keempat: Kafir harby, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Tentang larangan membunuh orang yang dilarang diperangi, itu berdasarkan firman Allah , “Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah : 4)

Maka siapa yang melanggar hal tersebut dengan membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh, maka bersiaplah untuk menuai ancaman Allah  sebagaimana dalam firman-Nya, “(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal : 13)

Dan Allah  berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadilah : 20)

2.         Keluar dari jalan kaum muslimin dan tidak mengikuti jalan mereka. Aksi-aksi terorisme serta menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan muslim, kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man adalah haram menurut kesepakatan ulama dari semenjak jaman shahabat hingga ulama sekarang. Maka melanggar hal tersebut berarti telah keluar dari jalan kaum muslimin. Allah  menegaskan, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115)

3.         Pembangkangan dan penghinaan terhadap para penguasa. Terjadinya aksi-aksi terorisme di negeri Islam terhitung sebagai penentangan dan penghinaan terhadap penguasa. Dan cukuplah ia dikatakan berdosa karena telah menyelisihi firman Allah , “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)

Dan Nabi  juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas , Rasulullah  bersabda, “Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar. Karena siapa yang keluar dari kekuasaan sejengkal kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7053)

Dan dalam hadits Abu Bakrah , Rasulullah  menegaskan,“Siapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Ahmad 5/42)

4.         Membuat bid’ah dalam agama. Seluruh aksi terorisme yang terjadi di masa ini, walaupun dinisbatkan kepada Islam, namun pada hakekatnya ia adalah perkara baru dalam agama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi  dan oleh para shahabatnya.

Dari ‘Aisyah bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam agama kami, padahal ia tidak ada asalnya (dalam agama) maka sesuatu itu tertolak.”

Dan dalam riwayat lain Nabi  menyatakan, “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami (yang tidak ada tuntunannya), maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

5.         Melanggar perjanjian kaum muslimin. Kebanyakan dari aksi terorisme yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin adalah bentuk pembatalan perjanjian yang telah dijalin oleh penguasa atau bagian dari Negara, baik itu berupa jaminan keamanan, perdamaian dan sebagainya. Rasulullah  mengancam perbuatan melanggar janji semacam itu, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib  bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Dzimmah (perjanjian/tanggung jawab) kaum muslimin adalah satu. Barang siapa yang membatalkan perjanjian seorang muslim, maka laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia atasnya (orang yang membatalkan perjanjian itu). Tidak diterima darinya sedikitpun.” (HR. Bukhari no. 3179)

6.         Terorisme merupakan perbuatan dzalim dan melampaui batas. Seorang muslim yang baik dan memahami agamanya dengan benar, tidak akan ragu bahwa aksi-aksi terorisme dan yang semisalnya adalah perbuatan kedzaliman dan melampaui batas. Berkata Masruq bin Al-Ajda’ Al-Wadi’ie –rahimahullah-, “Saya tidak pernah mendzalimi seorang muslim pun dan tidak pula kafir mu’ahad.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 6/83)

7.         Menghambat jalan tersebarnya agama Allah . Betapa banyak kegiatan-kegiatan dakwah Islam yang terhenti karena tindakan terorisme yang nampak belakangan ini. Penyebaran Islam, ajakan masuk islam, berusaha mendidik kaum muslimin, pengadaan studi ilmiah islamiah, penyebaran buku-buku Islam, bantuan dan santunan untuk kaum muslimin, pembangunan masjid dan sekolah-sekolah islami, dan aktifitas dakwah lainnya, terhambat karena adanya perbuatan tersebut. Maka bagi mereka yang menghambat jalan Allah  ini, sungguh akan merugi di kemudian hari, karena Allah  berfirman, “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah : 9)

8.         Membuat takut kaum muslimin. Aksi-aksi terorisme telah meruntuhkan suatu dasar pokok dalam agama kita, yaitu penegakan keamanan yang merupakan ciri syari’at Islam. Namun para teroris yang menganggap dirinya berada di atas tuntunan Islam, tidak pernah sadar betapa banyak musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan mereka. Dan mereka sama sekali tidak ingin mengerti betapa kaum muslimin dihinakan diberbagai negara, baik oleh pemerintahnya ataupun sesama rakyat. Betapa banyak pemerintah di negara-negara muslim ditekan oleh musuh-musuh Islam dengan alasan adanya kelompok teroris di negeri mereka. Dan betapa banyak kaum muslimin disiksa dan dipenjara, dst, karena ulah mereka.

10.       Berkuasanya orang-orang kafir terhadap kaum muslimin. Harus diketahui bahwa apa yang menimpa kaum muslimin pada hari-hari ini dengan berkuasanya para musuh Islam terhadap mereka disejumlah negeri kaum muslimin adalah tidak lepas dari pengaruh negatif perbuatan terorisme yang sedang melanda manusia yang sama sekali tidak memperhitungkan aturan-aturan syari’at, menjaga keamanan dan perjanjian, dst.

Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah  dari hadits Abdullah bin Umar , “Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima perkara yang kalian akan diuji dengannya… (beliau sebut diantaranya) …dan tidaklah mereka membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas kaum muslimin, kemudian mengambil bagian apa yang ada di tangan mereka. Dan kapan para penguasa tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah kecuali Allah akan menjadikan kehancuran mereka di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)

Hadits ini menunjukkan bahwa membatalkan perjanjian adalah sebab berkuasanya musuh terhadap kaum muslimin. Jika membatalkan sehari saja sedemikian rupa akibatnya, maka tentunya sikap aksi terorisme dengan bobot pelanggaran yang lebih besar dari membatalkan janji, tentu akan lebih berbahaya dan lebih menyebabkan orang-orang kafir berkuasa terhadap kaum muslimin.

11.       Pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah. Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin -rahimahullah-, “Dan jiwa yang diharamkan oleh Allah  adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, (kafir) dzimmi, mu’ahad, dan musta’man”.

Dan tentunya sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang bahayanya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Diantarnya adalah firman Allah , “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(QS. Al-Maidah : 32)

Dan sengaja membunuh jiwa seseorang yang dilarang untuk dibunuh tentu dosanya lebih besar, sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa’ : 93)

Dan Nabi  juga menegaskan larangan membunuh jiwa yang dilarang dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr , “Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah  daripada (jiwa) seorang muslim.” (HR. At-Tirmidzi no. 1399)

Dan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah ini semakin besar dosanya, ditinjau dari sisi lain, dimana para pelakunya telah melakukan pembunuhan kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai andil dalam peperangan. Sedangkan Allah  telah menegaskan, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah : 190)

Dan juga pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak adalah dilarang. Ibnu ‘Umar  menerangkan, “Seorang wanita ditemukan terbunuh pada sebagian peperangan Rasulullah , maka Rasulullah  (kemudian) menetapkan larangan membunuh wanita dan anak kecil.” (Riwayat Bukhari no. 3014, Muslim no. 1744)

12.       Menyakiti kaum muslimin yang tidak berdosa. Tidaklah terhingga berbagai kepedihan dan duka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan terorisme yang dilakukan oleh segelintir pihak ini (khususnya di negeri-negeri yang kaum muslimin menjadi minoritas). Sekali mereka meledakkan bom atau membuat teror, beberapa tentara/aparat negara yang dia jadikan “target sasaran” terluka atau bahkan tewas. Akan tetapi dalam waktu yang singkat, serangan balasan dilakukan oleh tentara itu. Akibatnya bisa diduga, ratusan bahkan ribuan kaum muslimin terluka atau bahkan tewas karena serangan balasan yang lebih besar itu, sedangkan “teroris-teroris” itu melarikan diri/bersembunyi. Lalu apakah ini dinamakan tindakan yang rasional? Mereka tidak menambah kemuliaan kaum muslimin, tetapi justru menjerumuskan kaum muslimin dalam kesengsaraan. Ini adalah bentuk “menyakiti” kaum muslimin dengan tidak langsung. Cukuplah bagi pembuat kerusakan tersebut ancaman dari Allah , “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Dan dari hadits Mu’adz bin Anas , Rasulullah  bersabda,“Siapa yang mempersempit rumah orang, atau memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” (HR. Ahmad 3/440)

14.       Menjadikan orang-orang yang komitmen terhadap agamanya sebagai bahan cercaan dan celaan. Kerena perbuatan sebagian orang, akhirnya sejumlah tuntunan syari’at dihinakan. Dan juga, orang-orang yang menerapkan syari’at Islam atas diri dan keluarganya juga dihinakan banyak pihak. Orang yang berjenggot, laki-laki yang memakai celana di atas mata kaki, wanita yang berjilbab dengan jilbab yang syar’i, berpakaian islami, dst, dicap sebagai “teroris” atau orang “ekstrim”. Padahal mau tidak mau, kita harus menyadari bahwa ungkapan-ungkapan demikian itu adalah diusung oleh musuh-musuh Islam guna menjatuhkan kewibawaan Islam dan kaum muslimin. Kita sendiri bisa melihat, tidak semua orang yang berjenggot, berjilbab syar’i, dst, adalah satu pemikiran dengan teroris ini. Bahkan jika melihat kedaan teroris-teroris itu, terkadang syari’at Islam mereka anggap remeh. Misalnya, ketika mereka butuh untuk melakukan “penyamaran” supaya lolos dari kejaran polisi, syari’at berpakaian mereka abaikan. Mereka berpakaian layaknya preman, jenggot dicukur, memakai pakain ketat, dst, yang sejatinya ini merupakan pelanggaran syari’at. Jadi, singkatnya kita katakan “Mereka berteriak-teriak supaya syari’at Islam ditegakkan, tetapi mereka melanggar syari’at Islam itu sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan mereka”.

Maka dari mana cita-cita mereka itu akan tercapai? Dalam Al-Qur’an, Alllah  mengancam orang-orang yang mengundang fitnah bagi kaum muslimin apapun bentuknya, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj : 10)

Wallahua’lam bish-shawab.

Maraji’ : Kitab “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad ….Bukan Kenistaan” karya Al-ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

sumber : almadinah.or.id

Apa Hukum Isbal dan Mencukur Jenggot?

isbal 2Oleh : Ustadz Muhammad Na’im Lc

Pertanyaan :

Apa hukumnya memakai celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot ?

Jawab :

Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya shallallaahu’alaihi wasallam. Dan diantara bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah memakai kain di atas mata kaki dan memelihara jenggot.. Adapun hukum asal memakai kain dan perhiasan adalah mubah, dan tidak diharamkan kecuali jika ada dalil yang menunjukkannya. Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al A’raaf : 32 )

Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan ketentuan dalam memakai kain agar tidak menjulur ke bawah mata kakinya karena hal itu dilarang dan termasuk perbuatan dosa. Adapun kain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ujung kainnya sampai ke tengah betisnya, ke atas sedikit atau di bawah tengah betis sampai kedua mata kakinya.  Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :

Dari Utsman bin ‘Affaan radhiyallaahu ‘anhu berkata : ” Kain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sampai ke tengah betisnya.” (HR. Muslim ) Dan sabda beliau : “Kainnya seorang muslim adalah sampai ke tengah betisnya.” (HR Ahmad dan Abu Uwanah )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min adalah sampai kedua betisnya, tidak mengapa antara betis dengan dua mata kaki..” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kain itu sampai setengah betis.” Ketika dilihatnya hal itu memberatkan kaum muslimin, beliau bersabda : “Sampai kedua mata kakinya, tidak ada kebaikan apa yang ada di bawah kedua mata kaki.”

Dan hadits-hadits tentang larangan isbal (memakai kain di bawah mata kaki) sampai derajat mutawatir secara ma’nawi dalam kitab shahih, sunan juga masanid dan yang lainnya. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbaad hafidhahullah (Ulama dan Muhadits Madinah sekarang ini) ketika ditanya tentang menjulurkan kain melebihi mata kaki dengan tidak sombong, maka beliau menjawab : Isbal itu buruk meski tidak sombong dan jika dibarengi kesombongan maka itu lebih buruk.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Amr bin Maimun radhiyallahu’anhu bahwa ketika Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu ditusuk perutnya ketika sholat shubuh oleh Abu Lu’luah Al Majusi budaknya sahabat Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, kemudian diangkat ke rumahnya kemudian diberi minum air kurma dan diminumnya maka keluar dari tenggorokannya, kemudian diberi air susu maka beliau meminumnya dan keluar dari lukanya. Banyak manusia memujinya dan datanglah seorang anak muda dan berkata : “Bergembiralah wahai Amirul Mu’minin dengan berita gembira dari Allah untukmu, dari bersahabat dengan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan apa yang baktikan untuk islam apa engkau telah lakukan kemudian engkau berkuasa dan berlaku adil serta mendapatkan syahadah (mati syahid).” Beliau menjawab : “Saya berharap hal itu cukup untukku (impas)” Ketika anak muda itu pergi dilihatnya kainnya menyentuh tanah, kemudian beliau berkata : Kembalikan anak muda itu kepadaku.” Dan beliau berkata : ” Wahai anak saudaraku ! Angkat kainmu maka itu lebih kekal untuk pakaianmu dan lebih suci untuk Rabbmu.”

Maka betapa perhatian beliau terhadap kain yang menjulur melewati mata kaki (isbal) padahal dalam kondisi terluka parah, karena isbal merupakan dosa besar yang Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengancamnya dengan api neraka. Wallaahu a’lam bi shawaab.

Adapun tentang memelihara jenggot maka berikut ini dalil-dalilnya :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab shahihnya dan yang lainnya dari Abdullah bin Umar radhiyallaahu’anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : ” Waffiru (biarkan) jenggot dan rapikanlah kumis.” Dalam riwayat lain :”Rapikan kumis dan a’fuu (biarkan) jenggot” dalam riwayat lain : ” Anhikuu (rapikan) kumis dan biarkan jenggot.”

Jenggot adalah rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan janggut. Berkata Ibnu Hajar: waffiru yakni dibiarkan menjulur, dan I’faaul lihyah artinya : biarkanlah apa adanya. Dan menyelisihi orang-orang musyrik dijelaskan dengan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Bahwa orang musyrik  membiarkan kumis-kumis mereka dan mencukur jenggot-jenggot mereka, maka selisihilah mereka, biarkanlah jenggot dan rapikanlah kumis.” (HR. Bazzaar dengan sanad hasan). Dan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : “Selisihilah orang Majusi.” Karena mereka memendekkan jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka. Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam menyebutkan orang Majusi maka beliau bersabda : “Mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot mereka, maka selisihilah mereka.”. Dan riwayat Ibnu Hibban juga dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Diantara fitrah Islam adalah : memotong kumis dan membiarkan jenggot, sesungguhnya orang Majusi membiarkan kumis dan memotong jenggot mereka maka selisihilah mereka, potonglah kumis dan biarkanlah jenggot kalian.”. dalam shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Kita diperintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : Diharamkan mencukur jenggot. Berkata Imam Qurtubi : Tidak boleh mencukurnya (jenggot), mencabutnya dan mengguntingnya. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan ijma’ bahwa memotong kumis dan memanjangkan jenggot adalah wajib. Beliau berdalil dengan hadits Ibnu Umar : “Selisihilah orang musyrik, potonglah kumis dan panjangkan njenggot.” Dan hadits Zaid bin Arqam yang marfu’ : “Barang siapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” Dishahihkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya. Dalam kitab Al Furu’ : Ungkapan ini menurut ulama kami menunjukkan haram. Dalam kitab Al Iqna’ : Diharamkan untuk dicukur. Dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang mencukur rambut (jenggotnya) maka tidak ada baginya bagian di sisi Allah.” Berkata Zamahsyari : Yakni mencukurnya dari pipi atau menyemirnya dengan warna hitam. Berkata (Ibnul Atsir) dalam Nihayah : mencukurnya dari pipi atau mencabutnya atau menyemirnya dengan warna hitam.

Maka dari dalil-dalil di atas sudah cukup kiranya untuk menunjukkan haramnya mencukur jenggot karena hal tersebut menyelisihi sunnah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan mengikuti kepada hawa nafsu juga menyerupai orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah ta’ala.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Maa’idah : 77)

“Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah : 145 )

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lain akan tetapi apa yang kita sebutkan insya Allah sudah mencukupi, wallaahu a’lam bishawab.