Batasan Jumlah Peserta Iuran Dalam Berkurban

Segala puji bagi Allohu ta’ala sholawat serta salam bagi Rosululloh, keluarganya dan sahabatnya, amma ba’du.
Ikhwani fillah yang semoga dirahmati Allohu ta’ala, tidak semua binatang bisa dijadikan hewan kurban, binatang yang boleh dijadikan sebagai hewan kurban adalah hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing/domba, hal ini berdasarkan firman Allohu ta’ala:
ليذكروا اسم الله على ما رزقكم من بهيمة الأنعام
Agar mereka menyebut nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah direzkikan kepada mereka. Q.S al-Hajj 34.
Para ulama telah berijma’ bahwa hewan kurban yang sah  adalah binatang ternah. ( shohih fiqh sunnah 2/369 )
Adapun rincianya adalah sebagai berikut;
1⃣ Batasan iuran kurban kambing.

satu ekor kambing cukup untuk satu orang dan anggota keluarganya, berdasarkan hadits dari Abu Ayyub – rodhiyallohu anhu – beliau berkata :
كان الرجل في عهد رسول الله يضحى بالشاة عنه و أهل بيته، فيأكلون و يطعمون.
Dulu dijaman Rosululloh -alaihis sholatu was salam- ada seorang laki – laki yang berkurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan anggota keluarganya, kemudian mereka memakanya dan membagikannya”. H.R Tirmidzi 1509 dan

dia menshohihkanya, dan ibnu majah 3147.

Satu ekor kambing lebih utama dari satu ekor unta atau sapi untuk 7 orang. ( Mulakhos Fiqh 1/324 )
Syaikh ibnu Utsaimin dalam syarhul mumti’ 07/464 mengatakan : “Keikut sertaan dalam pahala tidak ada batasannya, karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkuran atas nama semua ummatnya, dan seorang laki-laki berkurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan anggota keluarganya, meskipun jumlah mereka seratus orang”.
2⃣ Batasan iuran kurban sapi.
Satu ekor sapi bisa untuk berkurban untuk 7 orang.
Telah diketahui bahwa

Rosululloh -alaihis sholatu was salam- dan para sahabatnya berkurban dengan satu ekor sapi dan unta, jumhur ulama membolehkan berkurban dengan satu ekor sapi atau satu ekor unta untuk 7 orang, dan itu cukup bagi mereka, berdasarkan hadits dari sahabat Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:
نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة.
“Kami berkurban bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada tahun perjanjian Hudaibiyah dengan satu ekor badanah (unta gemuk) untuk tujuh orang, dan satu ekor sapi juga untuk tujuh orang”. H.R muslim 1318. ( Shohih fiqh sunnah 2/329 ).
3⃣ Batasan iuran kurban unta.
Adapun unta ada perbadaan ulama dalam jumlah maximal  bolehnya berserikat dalam berkurban unta, menjadi 2 pendapat.
1. Satu ekor unta untuk 7  orang.
2. Satu ekor unta boleh untuk 10 orang.

1. Adapun jumhur ulama ( mayoritas ulama ) berpendapat bolehnya 7 orang berserikat dalam kurban sapi dan unta, ini cukup bagi mereka, berdasarkan dalil dari sahabat Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:
نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم عام الحديبية البدنة عن سبعة و البقرة عن سبعة
“Kami berkurban bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada tahun perjanjian Hudaibiyah dengan seekor badanah (unta gemuk) untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang”. HR muslim 1318.( shohih fiqh sunnah 2/329 )
2. Ishaq ibnu Khuzaimah dan yang lainya bahwa badanah ( unta yg gemuk ) cukup untuk 10 orang, berdasarkan hadits ibnu abbas – rodhiyallohu anhu – ia berkata :
كنا مع رسول الله في سفر فحضر الأضحى، فاشتركنا في البقرة سبعة و في البعير عشرة
Kami pernah safar bersama Rosululloh – alaihis shlatu was salam- kemudian hari raya idul adha tiba, maka kami berserikat dalam kurban sapi unta 7 orang dan unta untuk 10 orang.
Imam Syaukani berkata : Seekor badanah ( unta yang gemuk ) cukup untuk 10 orang dalam udhiyah (kurban), dan 7 orang dalam had (kurban bagi jamaah haji). untuk menjamak 2 dalil (yg seolah-olah kontradiktif, pent).
Jumhur ulama ( mayoritas ulama ) membatasi hanya 7 orang saja, karena mereka mengkiaskan kurban dengan had.
Guru kami ( syaikh Albani ) berkata : jika shohih hadits ini maka perkataan ini adalah perkataan yg diada – adakan, karena haditsnya telah jelas dalam bab ini, akan tetapi jiwaku menyatakan ada sesuatu didalamnya, karena Husain bin Waqid menyendiri dalam periwayatan hadits ini, meskipun dia orang yg tsiqoh ( kuat hafalanya, bisa diterima haditsnya, pent ) – secara global -, akan tetapi Imam Ahmad berkata mengenai dirinya : Dalam haditsnya ada tambahan dan aku tidak tau apa itu.
Aku katakan ( Abu malik kamaal ibnu sayid saalim pengarang fiqh sunnah ) hadits ibnu abbas dikuatkan oleh hadits Rofi’ ibnu Khodij, dia berkata :
كان النبي صلى الله عليه و سلم يجعل قسم الغنائم عشرا من الشاء ببعيرا
Nabi Muhammad pernah membagikan harta rampasan perang berupa seekor unta untuk 10 orang
( Shohih fiqh sunnah 2 hal 369-370 ).
💎 Kesimpulan

1. Hewan yang boleh dikurbankan hanyalah kelompok hewan ternak, seperti unta, sapi, kambing/domba.
2. Boleh berkurban dengan seekor kambing untuk diri sendiri dan keluarganya.
3. Boleh berkurban dgn seekor sapi untuk 7 orang.
4. Boleh berkurban dgn seekor unta untuk 7 orang atapun 10 orang
📚 Sumber :

– Mulakhos fiqh Syaikh Fauzan

– Syarhul mumti’  Syaikh Utsaimin

– Shohih fiqh sunnah Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim.
📝 Ditulis oleh

Abu Muadz Indrajad

Bolehkah memotong rambut dan kuku ketika akan berkurban?

✉ pertanyaan.
Apakah diperbolehkan bagi seseorang yg hendak berkurban untuk mencukur rambutnya dan memotong kukunya?
📝 jawaban.
Puji syukur kepada Allohu ta’ala
syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata :
apabila seseorang hendak berkurban dan bulan dzulhijah telah tiba baik dengan cara ru’yatul hilal ( melihat bulan ) atau dengan menyempurnakan bilangan bulan dzulqo’dah menjadi 30 hari, maka diharamkan bagi orang yang hendak berkurban mencukur rambut atau memotong kuku atau mencukur bulu – bulu yang ada dikulit, sampai dia menyembelih binatang kurban miliknya, hal ini berdasarkan hadis dari ummu salamah rodhiyallohu anha bahwasanya Rosulluloh alaihis sholatu was salam berkata :
: ” إذا رأيتم هلال ذي الحجة ، وفي لفظ : ” إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره “. رواه أحمد ومسلم ، وفي لفظ : ” فلا يأخذ من شعره وأظفاره شيئاً حتى يضحي ” ، وفي لفظ : ” فلا يمس من شعره ولا بشره شيئاً
apabila kalian telah melihat hilal (bulan sabit yg menunjukan telah masuknya bulan baru dalam penanggalan hijriyah ) bulan dzulhijah, dan disebutkan dalam sebuah lafadz, apabila kalian telah memasukan sepuluh hari pertama (didalam bulan dzulhijah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka hendaknya di menahan dirinya untuk tidak memotong sedikipun dari rambutnya dan kukunya. HR imam ahmad   ( 26696 ) 6 / 311 dan imam muslim ( 1977 ) 3 / 1565. dan disebutkan dalam sebuah riwayat : maka hendaknya dia tidak mengambil (memotong) sesuatupun dari rambut dan  kukunya sampai dia menyembelih hewan kurbanya, dan disebutkan dalam riwayat yang lain : maka hendaknya orang yg hendak berkurban untuk tidak menyentuh (mencukur) sesuatu apapun dari rambut dan kulitnya.
akan tetapi apabila sesorang berniat untuk berkurban dipertengan 10 hari pertama dibulan dzulhijah maka hendaknya dia menahan dirinya dari perkara itu ( mencukur rambut atau memotong kuku ) dan tidak ada dosa baginya apabila dia terlanjur telah memotong kuku dan mencukur rambut sebelum niat.
hikmah dari larangan ini, bahwasanya ketika seseorang yang berkurban maka dia tergabung dengan orang yg berhaji disebagian amalan manasik haji yaitu mendekatkan diri kepada Allohu dengan cara menyembelih kurban, maka orang yg berkurban baginya sebagian kekhususan  seperti orang yang berihrom yaitu larangan mencukur rambut dan memotong kuku.
ini adalah hukum yg sifatnya khusus bagi orang yg berkurban, adapun kurban yg diatas namakan orang lain maka orang tersebut ( yg kurban diatas namakan untuknya ) tidak ada hubunganya dengan hal ini. karena Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam berkata :

: ” وأراد أحدكم أن يضحي ”
barang siapa yang hendak berkorban.
dan beliau tidak berkata :

أو يضحى عنه

atau kurban yang diatas namakan orang lain.

karena nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam pernah berkurban yang diatas namakan untuk keluarga beliau, dan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rosululloh memerintahkan keluarganya untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku.
maka oleh sebab itu boleh bagi keluarga orang yang berkurban untuk mencukur rambut, bulu di kulit dan memotong kuku di sepuluh hari pertama dibulan dzulhijah.
dan apabila seseorang yg hendak berkurban ingin mencukur rambutnya, memotong kukunya maupun mencukur bulu kulitnya, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allohu dan tidak mengulangi hal tersebut, dan tidak ada kafaroh ( tebusan dosa ) baginya, dan hal tersebut tidak merintanginya untuk berkurban, seperti yg disangka oleh sebagian orang awam, dan apabila orang yg berkurban memotong kukunya, mencukur rambut atau bulu kulitnya karena lupa atau tidak tau, atau rambutnya rontok tanpa disengaja, maka dia tidak berdosa. dan apabila orang yg berkurban berhajat untuk memotong kuku, dan mencukur rambut atau bulu kulitnya maka diperbolehkan untuk mencukur atau memotongnya dan dia tidak berdosa, seperti kukunya patah dan patahan kuku itu menganggunya maka boleh untuk dipotong, atau rambutnya rontok diwajahnya maka boleh dihilangkan, atau dia butuh untuk memotong/mencukurnya untuk mengobati luka dan yg sejenisnya.
sumber = https://islamqa.info/ar/36567
📝alih bahasa

Abu Muadz Indrajad

Rekening Yayasan

bri

BRI No. Rekening: 0149-01-001030-56-3

a.n. Yayasan Majma’ Karima Karanganyar.

Konfirmasi Transfer SMS/WA ke 08179497234

atau

logo-bsm-baru-21

Bank Mandiri Syariah  No rek : 7081679422
A.n. Yayasan Majma Karima

 Konfirmasi Transfer SMS/WA ke 082136485512

Dampak Negative Terorisme

Dampak Negative Terorismeبسم الله الرحمن الرحيم

Pembaca yang budiman, pelaku tindakan terorisme mengatasnamakan Islam. Mereka meyakini apa yang mereka perbuat adalah suatu kebaikan dan menegakkan jihad di jalan Allah .

Salah satu alasan mereka, tentara Yahudi, Amerika, dst, telah membantai sekian ribu kaum muslimin. Maka mereka merasa perlu membalas tindakan biadab itu… Tapi apakah cara yang mereka tempuh itu benar? Lempar batu sembunyi tangan, setelah “ngebom” lari dan  bersembunyi… Apakah hal seperti ini benar? Akibatnya, banyak kaum muslimin yang tidak berdosa “kena getah” dari perbuatan keji mereka itu.

Pada edisi kali ini, kami akan menyebutkan beberapa perkara yang menjadi dampak negatif tindakan terorisme ini, dengan harapan agar tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi semua pihak yang gelisah dan bingung atas tindakan ini.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari terorisme antara lain adalah,

1.         Tindakan Terorisme merupakan bentuk penentangan terhadap Allah  dan Rasulullah . Segala bentuk perbuatan kerusakan, peledakan, dan aksi-aksi terorisme adalah terlarang dalam agama ini. Demikian pula menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan kaum muslimin, kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’man adalah haram menurut dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu kita jelaskan, bahwa ada pembagian orang-orang kafir menurut syari’at Islam yang mulia ini.

Pertama: Kafir Dzimmy, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih mentaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka.

Kedua: Kafir Mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati.

Ketiga: Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan (termasuk di dalam kategori ini adalah turis asing yang datang ke negara muslim, pedagang, utusan & orang yang mau masuk Islam)

Keempat: Kafir harby, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis inilah yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Tentang larangan membunuh orang yang dilarang diperangi, itu berdasarkan firman Allah , “Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah : 4)

Maka siapa yang melanggar hal tersebut dengan membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh, maka bersiaplah untuk menuai ancaman Allah  sebagaimana dalam firman-Nya, “(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal : 13)

Dan Allah  berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadilah : 20)

2.         Keluar dari jalan kaum muslimin dan tidak mengikuti jalan mereka. Aksi-aksi terorisme serta menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan muslim, kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man adalah haram menurut kesepakatan ulama dari semenjak jaman shahabat hingga ulama sekarang. Maka melanggar hal tersebut berarti telah keluar dari jalan kaum muslimin. Allah  menegaskan, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115)

3.         Pembangkangan dan penghinaan terhadap para penguasa. Terjadinya aksi-aksi terorisme di negeri Islam terhitung sebagai penentangan dan penghinaan terhadap penguasa. Dan cukuplah ia dikatakan berdosa karena telah menyelisihi firman Allah , “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)

Dan Nabi  juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas , Rasulullah  bersabda, “Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar. Karena siapa yang keluar dari kekuasaan sejengkal kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7053)

Dan dalam hadits Abu Bakrah , Rasulullah  menegaskan,“Siapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Ahmad 5/42)

4.         Membuat bid’ah dalam agama. Seluruh aksi terorisme yang terjadi di masa ini, walaupun dinisbatkan kepada Islam, namun pada hakekatnya ia adalah perkara baru dalam agama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi  dan oleh para shahabatnya.

Dari ‘Aisyah bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam agama kami, padahal ia tidak ada asalnya (dalam agama) maka sesuatu itu tertolak.”

Dan dalam riwayat lain Nabi  menyatakan, “Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami (yang tidak ada tuntunannya), maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

5.         Melanggar perjanjian kaum muslimin. Kebanyakan dari aksi terorisme yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin adalah bentuk pembatalan perjanjian yang telah dijalin oleh penguasa atau bagian dari Negara, baik itu berupa jaminan keamanan, perdamaian dan sebagainya. Rasulullah  mengancam perbuatan melanggar janji semacam itu, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib  bahwasannya Rasulullah  bersabda, “Dzimmah (perjanjian/tanggung jawab) kaum muslimin adalah satu. Barang siapa yang membatalkan perjanjian seorang muslim, maka laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia atasnya (orang yang membatalkan perjanjian itu). Tidak diterima darinya sedikitpun.” (HR. Bukhari no. 3179)

6.         Terorisme merupakan perbuatan dzalim dan melampaui batas. Seorang muslim yang baik dan memahami agamanya dengan benar, tidak akan ragu bahwa aksi-aksi terorisme dan yang semisalnya adalah perbuatan kedzaliman dan melampaui batas. Berkata Masruq bin Al-Ajda’ Al-Wadi’ie –rahimahullah-, “Saya tidak pernah mendzalimi seorang muslim pun dan tidak pula kafir mu’ahad.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 6/83)

7.         Menghambat jalan tersebarnya agama Allah . Betapa banyak kegiatan-kegiatan dakwah Islam yang terhenti karena tindakan terorisme yang nampak belakangan ini. Penyebaran Islam, ajakan masuk islam, berusaha mendidik kaum muslimin, pengadaan studi ilmiah islamiah, penyebaran buku-buku Islam, bantuan dan santunan untuk kaum muslimin, pembangunan masjid dan sekolah-sekolah islami, dan aktifitas dakwah lainnya, terhambat karena adanya perbuatan tersebut. Maka bagi mereka yang menghambat jalan Allah  ini, sungguh akan merugi di kemudian hari, karena Allah  berfirman, “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah : 9)

8.         Membuat takut kaum muslimin. Aksi-aksi terorisme telah meruntuhkan suatu dasar pokok dalam agama kita, yaitu penegakan keamanan yang merupakan ciri syari’at Islam. Namun para teroris yang menganggap dirinya berada di atas tuntunan Islam, tidak pernah sadar betapa banyak musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan mereka. Dan mereka sama sekali tidak ingin mengerti betapa kaum muslimin dihinakan diberbagai negara, baik oleh pemerintahnya ataupun sesama rakyat. Betapa banyak pemerintah di negara-negara muslim ditekan oleh musuh-musuh Islam dengan alasan adanya kelompok teroris di negeri mereka. Dan betapa banyak kaum muslimin disiksa dan dipenjara, dst, karena ulah mereka.

10.       Berkuasanya orang-orang kafir terhadap kaum muslimin. Harus diketahui bahwa apa yang menimpa kaum muslimin pada hari-hari ini dengan berkuasanya para musuh Islam terhadap mereka disejumlah negeri kaum muslimin adalah tidak lepas dari pengaruh negatif perbuatan terorisme yang sedang melanda manusia yang sama sekali tidak memperhitungkan aturan-aturan syari’at, menjaga keamanan dan perjanjian, dst.

Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah  dari hadits Abdullah bin Umar , “Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima perkara yang kalian akan diuji dengannya… (beliau sebut diantaranya) …dan tidaklah mereka membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas kaum muslimin, kemudian mengambil bagian apa yang ada di tangan mereka. Dan kapan para penguasa tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah kecuali Allah akan menjadikan kehancuran mereka di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)

Hadits ini menunjukkan bahwa membatalkan perjanjian adalah sebab berkuasanya musuh terhadap kaum muslimin. Jika membatalkan sehari saja sedemikian rupa akibatnya, maka tentunya sikap aksi terorisme dengan bobot pelanggaran yang lebih besar dari membatalkan janji, tentu akan lebih berbahaya dan lebih menyebabkan orang-orang kafir berkuasa terhadap kaum muslimin.

11.       Pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah. Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin -rahimahullah-, “Dan jiwa yang diharamkan oleh Allah  adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, (kafir) dzimmi, mu’ahad, dan musta’man”.

Dan tentunya sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang bahayanya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Diantarnya adalah firman Allah , “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(QS. Al-Maidah : 32)

Dan sengaja membunuh jiwa seseorang yang dilarang untuk dibunuh tentu dosanya lebih besar, sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa’ : 93)

Dan Nabi  juga menegaskan larangan membunuh jiwa yang dilarang dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr , “Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah  daripada (jiwa) seorang muslim.” (HR. At-Tirmidzi no. 1399)

Dan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah ini semakin besar dosanya, ditinjau dari sisi lain, dimana para pelakunya telah melakukan pembunuhan kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai andil dalam peperangan. Sedangkan Allah  telah menegaskan, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah : 190)

Dan juga pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak adalah dilarang. Ibnu ‘Umar  menerangkan, “Seorang wanita ditemukan terbunuh pada sebagian peperangan Rasulullah , maka Rasulullah  (kemudian) menetapkan larangan membunuh wanita dan anak kecil.” (Riwayat Bukhari no. 3014, Muslim no. 1744)

12.       Menyakiti kaum muslimin yang tidak berdosa. Tidaklah terhingga berbagai kepedihan dan duka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan terorisme yang dilakukan oleh segelintir pihak ini (khususnya di negeri-negeri yang kaum muslimin menjadi minoritas). Sekali mereka meledakkan bom atau membuat teror, beberapa tentara/aparat negara yang dia jadikan “target sasaran” terluka atau bahkan tewas. Akan tetapi dalam waktu yang singkat, serangan balasan dilakukan oleh tentara itu. Akibatnya bisa diduga, ratusan bahkan ribuan kaum muslimin terluka atau bahkan tewas karena serangan balasan yang lebih besar itu, sedangkan “teroris-teroris” itu melarikan diri/bersembunyi. Lalu apakah ini dinamakan tindakan yang rasional? Mereka tidak menambah kemuliaan kaum muslimin, tetapi justru menjerumuskan kaum muslimin dalam kesengsaraan. Ini adalah bentuk “menyakiti” kaum muslimin dengan tidak langsung. Cukuplah bagi pembuat kerusakan tersebut ancaman dari Allah , “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Dan dari hadits Mu’adz bin Anas , Rasulullah  bersabda,“Siapa yang mempersempit rumah orang, atau memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” (HR. Ahmad 3/440)

14.       Menjadikan orang-orang yang komitmen terhadap agamanya sebagai bahan cercaan dan celaan. Kerena perbuatan sebagian orang, akhirnya sejumlah tuntunan syari’at dihinakan. Dan juga, orang-orang yang menerapkan syari’at Islam atas diri dan keluarganya juga dihinakan banyak pihak. Orang yang berjenggot, laki-laki yang memakai celana di atas mata kaki, wanita yang berjilbab dengan jilbab yang syar’i, berpakaian islami, dst, dicap sebagai “teroris” atau orang “ekstrim”. Padahal mau tidak mau, kita harus menyadari bahwa ungkapan-ungkapan demikian itu adalah diusung oleh musuh-musuh Islam guna menjatuhkan kewibawaan Islam dan kaum muslimin. Kita sendiri bisa melihat, tidak semua orang yang berjenggot, berjilbab syar’i, dst, adalah satu pemikiran dengan teroris ini. Bahkan jika melihat kedaan teroris-teroris itu, terkadang syari’at Islam mereka anggap remeh. Misalnya, ketika mereka butuh untuk melakukan “penyamaran” supaya lolos dari kejaran polisi, syari’at berpakaian mereka abaikan. Mereka berpakaian layaknya preman, jenggot dicukur, memakai pakain ketat, dst, yang sejatinya ini merupakan pelanggaran syari’at. Jadi, singkatnya kita katakan “Mereka berteriak-teriak supaya syari’at Islam ditegakkan, tetapi mereka melanggar syari’at Islam itu sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan mereka”.

Maka dari mana cita-cita mereka itu akan tercapai? Dalam Al-Qur’an, Alllah  mengancam orang-orang yang mengundang fitnah bagi kaum muslimin apapun bentuknya, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj : 10)

Wallahua’lam bish-shawab.

Maraji’ : Kitab “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad ….Bukan Kenistaan” karya Al-ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

sumber : almadinah.or.id

Apa Hukum Isbal dan Mencukur Jenggot?

isbal 2Oleh : Ustadz Muhammad Na’im Lc

Pertanyaan :

Apa hukumnya memakai celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot ?

Jawab :

Allah ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya shallallaahu’alaihi wasallam. Dan diantara bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah memakai kain di atas mata kaki dan memelihara jenggot.. Adapun hukum asal memakai kain dan perhiasan adalah mubah, dan tidak diharamkan kecuali jika ada dalil yang menunjukkannya. Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al A’raaf : 32 )

Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan ketentuan dalam memakai kain agar tidak menjulur ke bawah mata kakinya karena hal itu dilarang dan termasuk perbuatan dosa. Adapun kain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ujung kainnya sampai ke tengah betisnya, ke atas sedikit atau di bawah tengah betis sampai kedua mata kakinya.  Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :

Dari Utsman bin ‘Affaan radhiyallaahu ‘anhu berkata : ” Kain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sampai ke tengah betisnya.” (HR. Muslim ) Dan sabda beliau : “Kainnya seorang muslim adalah sampai ke tengah betisnya.” (HR Ahmad dan Abu Uwanah )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min sampai otot betisnya, kemudian ke tengah betisnya kemudian sampai ke kedua mata kakinya, dan yang di bawahnya (di bawah mata kaki) maka dia di neraka.”

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Kainnya seorang mu’min adalah sampai kedua betisnya, tidak mengapa antara betis dengan dua mata kaki..” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kain itu sampai setengah betis.” Ketika dilihatnya hal itu memberatkan kaum muslimin, beliau bersabda : “Sampai kedua mata kakinya, tidak ada kebaikan apa yang ada di bawah kedua mata kaki.”

Dan hadits-hadits tentang larangan isbal (memakai kain di bawah mata kaki) sampai derajat mutawatir secara ma’nawi dalam kitab shahih, sunan juga masanid dan yang lainnya. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbaad hafidhahullah (Ulama dan Muhadits Madinah sekarang ini) ketika ditanya tentang menjulurkan kain melebihi mata kaki dengan tidak sombong, maka beliau menjawab : Isbal itu buruk meski tidak sombong dan jika dibarengi kesombongan maka itu lebih buruk.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Amr bin Maimun radhiyallahu’anhu bahwa ketika Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu ditusuk perutnya ketika sholat shubuh oleh Abu Lu’luah Al Majusi budaknya sahabat Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, kemudian diangkat ke rumahnya kemudian diberi minum air kurma dan diminumnya maka keluar dari tenggorokannya, kemudian diberi air susu maka beliau meminumnya dan keluar dari lukanya. Banyak manusia memujinya dan datanglah seorang anak muda dan berkata : “Bergembiralah wahai Amirul Mu’minin dengan berita gembira dari Allah untukmu, dari bersahabat dengan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan apa yang baktikan untuk islam apa engkau telah lakukan kemudian engkau berkuasa dan berlaku adil serta mendapatkan syahadah (mati syahid).” Beliau menjawab : “Saya berharap hal itu cukup untukku (impas)” Ketika anak muda itu pergi dilihatnya kainnya menyentuh tanah, kemudian beliau berkata : Kembalikan anak muda itu kepadaku.” Dan beliau berkata : ” Wahai anak saudaraku ! Angkat kainmu maka itu lebih kekal untuk pakaianmu dan lebih suci untuk Rabbmu.”

Maka betapa perhatian beliau terhadap kain yang menjulur melewati mata kaki (isbal) padahal dalam kondisi terluka parah, karena isbal merupakan dosa besar yang Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengancamnya dengan api neraka. Wallaahu a’lam bi shawaab.

Adapun tentang memelihara jenggot maka berikut ini dalil-dalilnya :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab shahihnya dan yang lainnya dari Abdullah bin Umar radhiyallaahu’anhuma berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : ” Waffiru (biarkan) jenggot dan rapikanlah kumis.” Dalam riwayat lain :”Rapikan kumis dan a’fuu (biarkan) jenggot” dalam riwayat lain : ” Anhikuu (rapikan) kumis dan biarkan jenggot.”

Jenggot adalah rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan janggut. Berkata Ibnu Hajar: waffiru yakni dibiarkan menjulur, dan I’faaul lihyah artinya : biarkanlah apa adanya. Dan menyelisihi orang-orang musyrik dijelaskan dengan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Bahwa orang musyrik  membiarkan kumis-kumis mereka dan mencukur jenggot-jenggot mereka, maka selisihilah mereka, biarkanlah jenggot dan rapikanlah kumis.” (HR. Bazzaar dengan sanad hasan). Dan dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam : “Selisihilah orang Majusi.” Karena mereka memendekkan jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka. Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam menyebutkan orang Majusi maka beliau bersabda : “Mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot mereka, maka selisihilah mereka.”. Dan riwayat Ibnu Hibban juga dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : ” Diantara fitrah Islam adalah : memotong kumis dan membiarkan jenggot, sesungguhnya orang Majusi membiarkan kumis dan memotong jenggot mereka maka selisihilah mereka, potonglah kumis dan biarkanlah jenggot kalian.”. dalam shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Kita diperintahkan untuk memotong kumis dan membiarkan jenggot.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : Diharamkan mencukur jenggot. Berkata Imam Qurtubi : Tidak boleh mencukurnya (jenggot), mencabutnya dan mengguntingnya. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan ijma’ bahwa memotong kumis dan memanjangkan jenggot adalah wajib. Beliau berdalil dengan hadits Ibnu Umar : “Selisihilah orang musyrik, potonglah kumis dan panjangkan njenggot.” Dan hadits Zaid bin Arqam yang marfu’ : “Barang siapa yang tidak memotong kumisnya maka bukan termasuk golongan kami.” Dishahihkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya. Dalam kitab Al Furu’ : Ungkapan ini menurut ulama kami menunjukkan haram. Dalam kitab Al Iqna’ : Diharamkan untuk dicukur. Dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang mencukur rambut (jenggotnya) maka tidak ada baginya bagian di sisi Allah.” Berkata Zamahsyari : Yakni mencukurnya dari pipi atau menyemirnya dengan warna hitam. Berkata (Ibnul Atsir) dalam Nihayah : mencukurnya dari pipi atau mencabutnya atau menyemirnya dengan warna hitam.

Maka dari dalil-dalil di atas sudah cukup kiranya untuk menunjukkan haramnya mencukur jenggot karena hal tersebut menyelisihi sunnah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam dan mengikuti kepada hawa nafsu juga menyerupai orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah ta’ala.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Maa’idah : 77)

“Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah : 145 )

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lain akan tetapi apa yang kita sebutkan insya Allah sudah mencukupi, wallaahu a’lam bishawab.